Padahal, kelapa sawit bukan sekadar komoditas perdagangan.
Industri sawit menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat Indonesia, menggerakkan perekonomian pedesaan, mendukung pertumbuhan industri pengolahan, menghasilkan devisa, serta mempunyai peran strategis dalam penyediaan pangan dan energi.
Tentu saja, kepentingan ekonomi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan persoalan lingkungan. Namun, sebaliknya, kepentingan lingkungan juga tidak seharusnya dijadikan pembenaran untuk membangun penilaian yang tidak adil terhadap suatu komoditas.
Kita memerlukan cara berpikir yang lebih independen, yang tidak serta-merta menerima setiap narasi global sebagai kebenaran tanpa menguji landasan ilmiah dan kemungkinan kepentingan yang berada di belakangnya.
Dalam konteks karhutla, pembuktian mengenai lokasi awal kebakaran, penyebab penyalaan, arah penyebaran api, dan pihak yang bertanggung jawab harus menjadi dasar penilaian. Keberadaan api di suatu kawasan tidak otomatis membuktikan bahwa pengelola kawasan tersebut merupakan pelaku pembakaran.
Demikian pula dalam persoalan lingkungan global. Sawit tidak seharusnya dinilai lebih buruk dibandingkan minyak nabati lain tanpa menggunakan indikator, batas analisis, dan metode perbandingan yang setara.
Kepada para peneliti, akademisi, scholars, pemerhati lingkungan, dan seluruh netizen Indonesia, saya mengajak kita semua membangun tradisi berpikir yang kritis, rasional, objektif, dan independen.
Jangan terlalu mudah menerima persepsi yang disampaikan berulang-ulang hanya karena narasi tersebut memperoleh dukungan kampanye internasional yang kuat.
Kita juga perlu lebih kritis mempertanyakan kemungkinan adanya kepentingan ekonomi dan persaingan bisnis antarnegara maupun antarkomoditas di balik berbagai narasi lingkungan global.
Jangan sampai masyarakat Indonesia justru menjadi bagian dari kekuatan yang melemahkan komoditas strategis bangsanya sendiri, bukan karena kesalahan yang telah terbukti, melainkan akibat persepsi yang diterima tanpa pengujian secara kritis.
Sudah saatnya bangsa Indonesia berani menilai sawit menggunakan pengetahuan, penelitian, dan pemikirannya sendiri, bukan terus-menerus melihatnya melalui kacamata kepentingan global.















