• Senin, 26 Oktober 2026
Berita Terbaru

Hutan dan Lahan yang Terbakar: Kenapa Sawit yang Dikorbankan?

Penulis: Dimas H. Pamungkas

Peneliti dan Pengamat Kebijakan Publik

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan lingkungan yang menyita perhatian publik. Namun, setiap kali peristiwa tersebut terjadi, kelapa sawit seolah menjadi pihak yang paling mudah dituding sebagai penyebabnya. Bahkan sebelum asal api diketahui dan penyebab kebakaran dapat dipastikan, tuduhan terhadap komoditas sawit sering kali sudah lebih dahulu berkembang di ruang publik.

Pertanyaannya, apakah setiap lahan yang terbakar memang dipersiapkan untuk perkebunan sawit? Apakah kebakaran tersebut benar-benar bermula dari aktivitas perkebunan? Bagaimana jika api justru berasal dari penggunaan lahan lain, kemudian menjalar hingga memasuki kawasan perkebunan?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini semestinya dijawab terlebih dahulu sebelum menetapkan siapa yang bertanggung jawab.

Teknologi penginderaan jauh melalui satelit MODIS dan VIIRS memang memungkinkan kita mendeteksi titik panas (hotspot) dan mengamati perkembangan kebakaran secara spasial maupun temporal. Namun, keberadaan hotspot tidak serta-merta membuktikan lokasi awal penyalaan api, siapa yang menyalakannya, ataupun motif di balik suatu kebakaran.

Diperlukan penelusuran kronologi kebakaran, analisis spasial yang lebih mendalam, serta verifikasi lapangan untuk memperoleh kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sayangnya, dalam berbagai pemberitaan dan kampanye lingkungan, kesimpulan mengenai pihak yang dianggap bertanggung jawab terkadang muncul jauh lebih cepat daripada proses pembuktiannya. Lebih memprihatinkan lagi, persoalan kebakaran yang kompleks tersebut kemudian digeneralisasi menjadi kesalahan satu komoditas: kelapa sawit.

Mengapa sawit begitu mudah dikorbankan dalam pembentukan opini publik?

Menurut saya, persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari persepsi negatif terhadap kelapa sawit yang telah dibangun selama puluhan tahun melalui berbagai kampanye lingkungan internasional.

Sawit terus-menerus dihubungkan dengan deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem, dan tingginya emisi karbon. Berbagai persoalan lingkungan tersebut memang perlu mendapat perhatian serius. Namun, ketika seluruh persoalan seolah dilekatkan secara eksklusif pada satu komoditas, kita patut mempertanyakan objektivitas cara penilaiannya.

Artikel Terkait