• Selasa, 27 Oktober 2026
Berita Terbaru

Hutan dan Lahan yang Terbakar: Kenapa Sawit yang Dikorbankan?

Lantas, mengapa keunggulan sawit dalam penggunaan lahan tidak memperoleh perhatian publik yang sebanding dengan berbagai tudingan negatif terhadapnya?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa industri sawit terbebas dari persoalan lingkungan. Deforestasi, kebakaran, pengelolaan lahan gambut, maupun praktik budidaya yang tidak berkelanjutan tetap merupakan persoalan yang harus diperbaiki.

Namun, kritik terhadap sawit seharusnya dibangun di atas fakta, menggunakan metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, dan menerapkan standar penilaian yang sama terhadap komoditas lain.

Jangan sampai sebuah komoditas terus-menerus dinyatakan sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan, sementara konsekuensi ekologis dari komoditas penggantinya justru luput dari perhatian.

Yang lebih mengkhawatirkan, persepsi negatif terhadap sawit tampaknya tidak lagi terbatas pada masyarakat internasional. Narasi tersebut juga telah memengaruhi cara sebagian masyarakat Indonesia memandang komoditasnya sendiri.

Kita dapat melihat bagaimana pernyataan Presiden Prabowo bahwa sawit merupakan pohon justru mengundang ejekan di ruang publik, termasuk munculnya istilah "nyawit".

Padahal, secara botani kelapa sawit memang termasuk kelompok palma dengan perawakan menyerupai pohon. Memang benar bahwa perkebunan kelapa sawit tidak dapat disamakan dengan hutan alam, baik dari sisi struktur vegetasi, keanekaragaman hayati, maupun fungsi ekologisnya.

Namun, perbedaan tersebut tidak lantas menjadikan pernyataan bahwa sawit adalah pohon sebagai sesuatu yang keliru dan patut ditertawakan.

Artikel Terkait