Lahan Produktif Minim Peluang Kebakaran

Prof. Dr. Dodik Ridho Nurrachmad, Wakil Rektor IPB mengatakan, kecil kemungkinan kawasan produktif seperti perkebunan sawit terbakar dan punya banyak hotspot.  Itu sebabnya, upaya pencegahan kebakaran perlu mempertimbangkan berbagai opsi.

Dodiek menyarankan Pemerintah tidak menutup opsi lain dalam restorasi lahan gambut. Selain Pembasahan gambut (rewetting)  sebaiknya opsi pemadatan dibuka.  Menurut Dodiek, ada sejumlah alasan perlunya opsi lain, salah satunya untuk mencegah kebakaran.

Menurut Dodiek, rewetting juga tidak menjamin tinggi muka air bisa sama yakni 0,4 m, terutama di perkebunan sawit rakyat. Hal ini karena usia sawit khususnya sawit rakyat berbeda-beda serta bentuk kanal yang tidak beraturan. ”Itu masalahnya. Pada kebun sawit usia 10 tahun mungkin ketinggian 0,4 m cukup. Namun bagi sawit yang baru ditanam, pasti akan terendam dan sulit tumbuh,” kata dia.

Menurut Dodiek, kedua tehnik ini bisa dipergunakan dengan memperhitungkan subsidensi, besaran karbon yang keluar serta kelembaban tanah.  “Pemadatan juga punya sisi baik. Dengan tehnik ini kebakaran hanya terjadi dipermukaan. Kapilaritas yang sempit akan mendorong air naik ke permukaan sehingga tanah lembab.  Ini akan memotong salah satu sumber kebakaran di segitiga api sehingga potensi kebakaran di  bawah permukaan tanah sangat kecil, “  jelas Dodiek.

Pengamat Lingkungan dan Kehutanan Petrus Gunarso mengatakan, pemegang konsesi wajib dibebani tanggung jawab atas setiap peristiwa yang terjadi di area konsesi hutan dan lahan yang dikuasainya. Cara pencegahan ini dinilai efektif dan tidak membutuhkan banyak biaya dibandingkan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Petrus, tanggung jawab itu akan memaksa setiap pemegang konsesi aktif menjaga, mencegah, menerapkan teknologi lingkungan, melakukan pemadaman saat terbakar serta melibatkan masyarakat di sekitar konsesi untuk mencegah karhutla.

“Tanggung jawab pemegang konsesi menjadi penting karena mereka harus fokus menjaga kawasannya. Potensi terjadinya karhutla yang  disinyalir 99 persen merupakan ulah manusia bisa dicegah dan  tidak lagi menjadi bencana berulang,” kata Petrus.

Menurut Petrus, pemegang  konsesi hutan dan kawasan yang masuk Area penggunaan lain (APL) perlu dibedakan secara legalitas dan masing-masing punya tanggung jawab  sama dalam menjaga konsesinya.

Jika cara ini diterapkan, kebijakan tanggung jawab mutlak atau strict liability sebagai dasar pembayaran ganti rugi bisa diberlakukan kepada semua pihak baik korporasi, pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pihak-pihak pengelola konsesi.

Kebijakan ini secara  tidak langsung juga akan memotivasi pemerintah sebagai penanggung jawab keseluruhan daratan  untuk mengelola kawasan yang sudah berizin maupun yang belum berizin dengan baik.

Kesetaraan tanggung jawab bagi pengelola konsesi diharapkan bisa meminimalir kampanye hitam terhadap industri sawit di Indonesia. “Selama ini, setiap karhutla selalu dikaitkan dengan industri sawit, padahal kebakaran terbesar tahun ini justru terjadi NTB yang merupakan kawasan Sabana dan pulau Jawa yang keduanya tidak ada kebun sawitnya,” kata dia.

Petrus juga mengharapkan, perlu ada regulasi yang mengatur mengenai status keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan seperti Masyarakat peduli Api (MPA).  Hal ini, ketergantungan terhadap masyarakat terutama untuk pencegahan karhutla di luar konsesi sangat tinggi.

“Pertanyaan, apakah mereka terlibat secara sukarela atau berbayar. Ini perlu diperjelas. Jangankan masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, masyarakat di kota besar seperti Jakarta yang jelas kepemilikan lahannya, pembakaran sampah plastik dan organik masih terjadi. Apalagi MPA diharapkan menjadi pioner dan  contoh bagi masyarakat dalam membuka dan membersihkan lahan tanpa membakar, perlu punya kejelasan status ,” kata dia.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan, penguatan desa di tingkat tapak perlu dilakukan sebagai solusi pencegahan karhutla. Menurut Joko, perlu dibuat peta desa untuk memetakan kondisi desa, wilayah rawan kebakaran, sumber air serta akses kepemilikan lahan.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 97)

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like