JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan dampak iklim El Nino terhadap penurunan produksi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) nasional baru akan terasa signifikan pada 2027. Meskipun demikian, penurunan produksi diproyeksikan masih berada di bawah dua digit di tengah target produksi akhir 2026 yang membidik 56 juta hingga 58 juta ton.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menjelaskan bahwa efek kekeringan akibat El Nino memiliki jeda waktu (time lag) terhadap pembentukan buah sawit, sehingga dampaknya tidak langsung memukul volume panen di tahun berjalan.
“El Nino untuk produksi tahun ini pengaruhnya tidak begitu besar. Namun pada 2027 kemungkinan ada pengaruh terhadap penurunan produksi. Yang jelas ada penurunan, tetapi diperkirakan tidak sampai dua digit,” ujar Mukti di sela-sela acara BIG Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Poin-poin utama proyeksi konsumsi domestik, tantangan stagnasi produksi, serta urgensi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) meliputi:
- Lonjakan Konsumsi Mandatory Biodiesel: GAPKI mencatat penyerapan CPO untuk program biodiesel terus meningkat tajam, dari sekitar 12,4 juta ton pada 2025 menjadi lebih dari 14 juta ton pada 2026, dan berpotensi menyentuh 17 juta ton pada 2027.
- Ancaman Penyusutan Alokasi Ekspor: Di tengah konsumsi domestik yang melonjak untuk sektor pangan, oleokimia, dan energi, produksi CPO nasional dalam lima tahun terakhir cenderung stagnan di kisaran 51 juta–56 juta ton dari total luas lahan sekitar 16 juta hektare. Kondisi ini berisiko mempersempit porsi volume CPO untuk pasar ekspor.
- Percepatan PSR dan Legalitas Lahan: Mengingat perkebunan rakyat menguasai 41% dari total areal sawit nasional, GAPKI mendesak pemerintah mempercepat program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang didanai BPDP. Pembenahan legalitas lahan serta penyediaan bibit unggul bersertifikat menjadi syarat mutlak untuk mendongkrak produktivitas petani swadaya.
- Insentif Masa Tanam Mula (TBM): GAPKI juga menyoroti pentingnya skema insentif penopang ekonomi bagi petani selama masa tunggu 3–4 tahun saat tanaman belum menghasilkan pasca-Peremajaan.
Melalui optimalisasi program PSR dan peningkatan produktivitas hulu, industri sawit nasional diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pemenuhan energi hijau dalam negeri dan keberlanjutan pasokan untuk ekspor global.
Sumber: ekonomi.bisnis.com














