• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Substitusi Impor Pakan Ternak, GAPKI dan Kementan Dorong Pemanfaatan Bungkil Sawit hingga di Atas 10 Persen

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) membuka peluang akselerasi pemanfaatan produk samping kelapa sawit—khususnya bungkil inti sawit (Palm Kernel Meal/PKM)—sebagai bahan baku pakan ternak unggas dan sapi. Langkah hilirisasi ini ditargetkan mampu memberikan nilai tambah industri sekaligus menekan ketergantungan impor Soybean Meal (SBM) nasional.

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menegaskan bahwa pemanfaatan limbah dan produk samping sawit menjadi pakan ternak secara langsung menciptakan nilai efisiensi dan nilai tambah (added value) baru bagi ekosistem sawit nasional.

“Dari bungkil kelapa sawit itu bisa digunakan untuk makanan ternak. Tidak hanya untuk ayam, termasuk untuk sapi juga bisa. Yang jelas pemanfaatan limbahnya jadi ada nilai tambah,” ujar Mukti di sela-sela agenda BIG Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).

Poin-poin utama potensi substitusi pakan, tantangan riset nutrisi unggas, serta porsi bahan baku impor meliputi:

  • Target Substitusi Impor SBM di Atas 10%: Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun, menyampaikan bahwa Kementan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi tengah menggencarkan riset formulasi pakan. Jika porsi bahan berbasis sawit dapat ditingkatkan melebihi 10%, angka impor SBM sebagai sumber protein utama pakan dapat dipangkas signifikan.

Kondisi Formulasi Pakan Saat Ini:

  • Pakan Ayam Broiler: Penggunaan PKM lokal saat ini baru menyumbang sekitar 5%. Sementara itu, ketergantungan bahan baku impor masih berada di level 40% (porsi SBM mencapai 25%).

  • Pakan Ayam Layer: Porsi bahan baku lokal telah mencapai 63%, sedangkan bahan baku impor tercatat 37% (porsi SBM mencapai 20%).

  • Tantangan Karakteristik Serat & Pencernaan Unggas: Kementan menggarisbawahi bahwa peningkatan porsi PKM dan cangkang/tempurung sawit menghadapi tantangan tekstur keras dan kandungan serat kasar tinggi yang berisiko mengganggu saluran pencernaan ayam jika tidak diolah melalui teknologi fermentasi atau ekstraksi ilmiah.

Melalui integrasi riset BRIN dan dukungan pelaku industri di bawah naungan GAPKI, pemanfaatan riset turunan CPO dan bungkil inti sawit ini diharapkan menjadi solusi ganda: memperkuat ketahanan pakan ternak nasional sekaligus memangkas beban devisa impor sektor peternakan secara berkelanjutan.

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Artikel Terkait