PT Royal Agro Indonesia adalah bagian dari ADAMA Group yang memiliki beragam produk pengendali Gulma, salah satu produk herbisida yang dipasarkan di Indonesia yaitu AGIL 100 EC.

Bagi petani, tak terkecuali petani kelapa sawit, salah satu gulma yaitu lulangan (eleusine) yang ada di lahan yang dikelola menjadi perhatian dan harus dikendalikan. Pasalnya, jika tidak maka akan menimbulkan kerugian baik langsung maupun tidak langsung.

Diketahui, gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di sekitar tanaman yang dibudidayakan dan kehadirannya tidak diinginkan. Oleh karena itu gulma merupakan tumbuhan yang harus dikendalikan karena menyebabkan kerugian secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian secara langsung dari keberadaan gulma pada budidaya tanaman adalah terjadinya kompetisi antara tanaman pokok dengan gulma dalam memperoleh cahaya, ruang, hara dan air. Sedangkan kerugian secara tidak langsung terjadi apa bila gulma tersebut menjadi tumbuhan inang dari hama dan penyakit tanaman.

Untuk mengendalikan salah satu gulma yang ada di perkebunan kelapa sawit. Kini ada, salah satu, perusahaan multi nasional dibawah group Adama, yang beroperasi di 120 negara di seluruh dunia dengan manufacturing yang tersebar di beberapa negara di Eropa, China dan India.

Adalah PT. Royal Agro Indonesia berdiri secara resmi pada 15 Juli 2010. Sampai saat ini, PT. Royal Agro Indonesia telah mendaftarkan 50 merk pestisida di Kementrian Pertanian termasuk Insektisida, Fungisida, Herbisida dan Akarisida. Salah satu merek Herbisida yang dipasarkan di Indonesia adalah AGIL 100 EC.

Crop manager, PT Royal Agro Indonesia (ADAMA), Sardi menjelaskan AGIL 100 EC merupakan herbisida kontak sistemik yang khusus untuk mengendalikan gulma berdaun sempit (Grasses). “Produk herbisida kami (AGIL 100 EC) memiliki beberapa keunggulan antara lain dapat mengendalikan gulma yang susah dikendalikan oleh herbisida lain yaitu Lulangan (Eleusine sp.), dan dapat digunakan dalam pemurnian kacangan penutup tanah,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Majalah Sawit Indonesia, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, Sardi menambahkan dari hasil pengembangan riset yang dilakukan AGIL 100 EC technology terbaru yang mulai diperkenalkan untuk Plantation, hasil percobaan yang telah dilakukan sangat baik dan diterima oleh Plantation baik untuk pemurnian kacang-kacangan (penutup tanah) dan juga menjawab tantangan terhadap gulma Eleusine yang sudah terjadi resistensi terhadap herbisida yang ada saat ini. “Target utama adalah Gulma berdaun sempit. Salah satunya adalah Eluesine sp. (lulangan),” imbuhnya.

Bagi petani sawit atau pelaku usaha budidaya tanaman kelapa sawit, tentu memiliki pertimbangan saat memilih pestisida untuk mengendalikan rumput pada lahan produksi yang dikelola. “Hal ini menjadi pertimbangan kami sebelum meluncurkan suatu produk. Dalam meluncurkan suatu produk pestisida, kami selalu mengedepankan solusi atas permasalahan yang dialami oleh petani atau perusahaan perkebunan. Dan produk AGIL 100 EC adalah solusi yang ditawarkan untuk mengendalikan dan mengatasi permasalahan gulma berdaun sempit yang ada di perkebunan,” terang Sardi menambahkan.

Sejak, dipasarkan di Indonesia terutama di perkebunan sawit. Hingga saat ini, sudah ada permintaan dari beberapa customer baik dari perusaahan sawit besar maupun perorangan Petani sawit atau smallholder. Hal ini membuktikan produk AGIL 100 EC sudah dapat diterima oleh pelaku usaha atau pembudidaya tanaman kelapa sawit.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 125)

Share.

Comments are closed.