The Devil is in the Implementation
Di atas kertas, arah kebijakannya cukup jelas. Pelaksanaannya jauh lebih rumit.
BMKS harus mempunyai volume dan likuiditas yang cukup. DSI, BMKS dan Bea Cukai harus berbagi data dan fungsi tanpa menambah bureaucracy. B50 tidak boleh menjadi terlalu rigid ketika produksi atau harga global berubah. Dan peningkatan penggunaan domestik harus diikuti produktivitas yang lebih tinggi di hulu.
Di sinilah batas antara strategic governance yang efektif dan sekadar lebih banyak intervensi akan terlihat.
Indonesia memang ingin mempunyai posisi yang lebih kuat dalam mengelola sawit. Tetapi posisi yang lebih kuat tidak datang hanya karena negara memiliki lebih banyak instrumen. Ia datang jika instrumen tersebut benar-benar memperbaiki keputusan, memperkuat pembentukan harga, menjaga daya saing dan memungkinkan Indonesia menyesuaikan kebijakan ketika keadaan berubah.
Sawit sudah lama menjadi komoditas strategis. Tantangan berikutnya adalah membuat tata kelolanya sama strategisnya.






