Bali, SAWIT INDONESIA — Pemerintah Brasil membagikan perjalanan 95 tahun pengembangan industri bioetanol nasionalnya dalam ajang 6th Palm Biodiesel Conference 2026 yang digelar di Nusa Dua, Bali. Negara Amerika Selatan tersebut menilai pengalaman panjangnya dapat menjadi rujukan berharga bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara dalam mematangkan rantai pasok serta pasar bahan bakar nabati.
Atase Pertanian Kedutaan Besar Brasil di Jakarta Carlos Alberto Turchetto Jr. mengungkapkan bahwa keberhasilan Brasil menjadi benchmark global bioetanol tidak dicapai secara instan, melainkan melalui proses pengujian teknologi, penyempurnaan kebijakan, hingga adaptasi pasar sejak 1931. Untuk diketahui, pada tahun 1931, pemerintah Brasil mulai mewajibkan pencampuran 5% etanol anhidrat ke dalam bensin. Langkah ini awalnya diambil untuk menstabilkan harga gula domestik dan mengurangi impor minyak bumi.
"Kunci terbesar keberhasilan program bioetanol di Brasil adalah memberikan pilihan (choice) dan fleksibilitas bagi konsumen," ujar Turchetto dalam sesi talkshow sesi 3 bertajuk Accelerating the Energy Transition: A Multi-Sectoral Roadmap for Biofuels, Bioethanol, and Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Nusa Dua, Bali, Kamis (17 September 2026) .
Turchetto membeberkan bahwa pengembangan bioetanol Brasil sempat menemu jalan buntu dan krisis hebat pada akhir 1980-an akibat ketergantungan pada kontrol harga, subsidi, serta ketiadaan diversifikasi bahan baku.
Namun, titik balik industri terjadi pada 2003 seiring lahirnya inovasi teknologi mesin Flex-Fuel yang diinisiasi oleh industri otomotif. Teknologi ini memungkinkan kendaraan mengonsumsi bensin, etanol, maupun campuran keduanya dalam proporsi 0% hingga 100%.
"Dengan Flex-Fuel, keputusan berpindah ke etanol diserahkan penuh kepada konsumen berdasarkan kalkulasi keekonomian yang transparan di SPBU. Hasilnya, 90% mobil baru yang terjual di Brasil saat ini berbasis Flex-Fuel dan berhasil memangkas emisi karbon hingga 50 juta ton per tahun," jelasnya.
Menanggapi rencana akselerasi program bioetanol (E5) di Indonesia, pihak Brasil menekankan pentingnya riset berlanjut untuk meningkatkan produktivitas bahan baku tebu/molases, insentif investasi bagi manufaktur otomotif, serta jaminan ketersediaan infrastruktur distribusi nasional agar tidak mengulang kesalahan masa lalu.














