• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

GAPKI: B50 Bisa Dijalankan, Tapi Ekspor Sawit Terpangkas 5 Juta Ton

Bali, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan bahwa stok produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional secara fundamental mencukupi untuk mendukung pelaksanaan program B50. Namun, pemenuhan target energi tersebut berisiko memangkas volume ekspor secara tajam jika tidak diimbangi dengan percepatan peningkatan produktivitas lahan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum GAPKI Eddy Martono dalam ajang 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Jumat (18 September 2026).

"Secara fundamental, produksi biofuel Indonesia saat ini sudah cukup untuk mendukung implementasi B50. Namun, implementasi B50 pada 2026 diperkirakan akan mengurangi ketersediaan stok untuk ekspor, dan pada 2027 penurunannya akan lebih jauh lagi," kata Eddy.

Eddy memaparkan bahwa total produksi CPO dan PKO Indonesia pada 2026 diproyeksikan mencapai 58,8 juta ton, dengan tingkat konsumsi domestik sebesar 27,1 juta ton dan ekspor sebesar 31,1 juta ton. Memasuki 2027, total produksi diproyeksikan terkoreksi menjadi 56,6 juta ton akibat dampak cuaca.

Di sisi lain, tingkat penyerapan dalam negeri diproyeksikan mengalami lonjakan yang cukup signifikan.

"Pada 2027, total konsumsi diperkirakan naik menjadi 30,2 juta ton, di mana konsumsi untuk biodiesel meningkat 18,4% menjadi 17,4 juta ton. Akibatnya, ekspor akan menurun hingga 26,4 juta ton atau merosot sekitar 14,87%," papar Eddy.

Dalam bahan presentasi yang ditampilkan Eddy, ekspor pada tahun 2027 diproyeksikan menurun sekitar 5 juta ton dibandingkan dengan tahun 2026 (dari 31,1 juta ton menjadi 26,4 juta ton).

Ia mengingatkan bahwa penurunan volume ekspor ini bakal memberikan dampak berantai terhadap penerimaan negara dan pendanaan industri sawit secara keseluruhan.

"Penurunan ekspor ini akan berdampak pada pendapatan pemerintah dari pajak dan pungutan ekspor, yang selama ini menjadi sumber dana penting untuk mendukung keberlanjutan industri biofuel," jelasnya.

Produktivitas Petani Kecil Jadi Kunci

Untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan domestik, pasokan biofuel, serta kinerja ekspor, Eddy menilai peningkatan produktivitas harus menjadi fokus utama sektor kelapa sawit nasional tanpa perlu melakukan ekspansi lahan ke hutan primer.

"Pekerjaan rumah terbesar kita saat ini adalah meningkatkan produktivitas, terutama untuk petani rakyat (smallholders). Meningkatkan produktivitas melalui program replanting menggunakan benih unggul berkualitas tinggi harus diimplementasikan secara efektif dan serius," ujar Eddy.

Menurut data GAPKI, luas tutupan sawit nasional tercatat mencapai 16,8 juta hektare. Dari sisi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), porsi terbanyak disumbangkan oleh anggota GAPKI sebanyak 587 sertifikat (48%), sedangkan asosiasi petani swadaya baru mencatatkan 107 sertifikat (9%).

Eddy menekankan bahwa penguatan kapasitas petani swadaya bukan sekadar program pendampingan, melainkan pilar penting bagi ketahanan industri.

"Petani kecil adalah kunci untuk keamanan jangka panjang, tetapi mereka masih menghadapi masalah seperti produktivitas yang rendah, tingginya biaya sertifikasi, dan keterbatasan akses pendanaan. Mendukung mereka adalah investasi nasional yang strategis untuk menjamin pasokan stok di masa depan," pungkas Eddy.

Artikel Terkait