Bali, SAWIT INDONESIA - Industri kelapa sawit global dinilai tidak lagi bisa hanya berpatokan pada strategi peningkatan volume produksi berbiaya murah. Menghadapi tantangan deforestasi dan perubahan iklim, efisiensi berbasis riset dan teknologi menjadi kunci utama keberlanjutan industri biofuel berbasis sawit.
Hal tersebut ditegaskan oleh Group Leader of Biofuel Technology, Engineering and Processing Division Malaysia Palm Oil Board (MPOB) Dr. Harrison Lau Lik Nang dalam sesi diskusi 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali.
"Masa depan biofuel berbasis sawit bukan lagi soal menghasilkan lebih banyak dengan mengorbankan biaya, melainkan menghasilkan lebih banyak dengan input yang lebih sedikit (produce more with less), serta membuktikan bahwa kita melakukannya secara bertanggung jawab," ujar Harrison dalam diskusi sesi 4 bertajuk “Global Palm Bioenergy Outlook: Yields, Innovation, and B50 Mandate Execution”, Jumat (18 September 2026).
Harrison memaparkan bahwa hingga 2050, populasi dunia diproyeksikan tumbuh hingga mendekati 10 miliar jiwa dengan kebutuhan minyak nabati global mencapai sekitar 200 juta ton. Tanaman kelapa sawit dinilai memiliki keunggulan kompetitif tertinggi dalam memenuhi kebutuhan pangan dan energi tersebut tanpa harus mengonsumsi banyak lahan.
"Kelapa sawit hanya menggunakan sekitar 7,8% dari total lahan tanaman minyak nabati dunia, tetapi mampu memasok hingga 35% kebutuhan minyak nabati global. Untuk menghasilkan 1 ton minyak, kelapa sawit hanya membutuhkan lahan sekitar 0,26 hektare, atau 5 hingga 8 kali lebih efisien dibandingkan jenis tanaman minyak nabati lainnya," paparnya.
Di Malaysia, komitmen penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) telah ditargetkan sebesar 45% pada 2030 berbasis PDB 2005. Pemerintah Malaysia menetapkan batas maksimal area perkebunan sawit sebesar 6,5 juta hektare, di mana realisasi tutupan lahan saat ini berada di angka 5,7 juta hektare. Kebijakan ini memastikan tidak ada lagi pembukaan area hutan primer untuk perkebunan sawit.
Inovasi Presisi dan Penguatan Traceability
Guna mendongkrak produktivitas di tengah keterbatasan lahan, MPOB meluncurkan visi kerangka kerja riset PAMS Vision 2030 yang berfokus pada lima pilar utama: Productivity (produktivitas), Automation (otomatisasi), Low Carbon (rendah karbon), Marketability (daya serap pasar), dan Sustainability (keberlanjutan).
MPOB telah mengembangkan materi genetik unggul yang berpotensi menghasilkan hingga 8 ton minyak per hektare, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di bawah 4 ton per hektare. Selain pemuliaan genetik, pendekatan precision agriculture juga diterapkan melalui pemanfaatan IoT, citra satelit, serta kolaborasi riset bersama IPB University Bogor lewat pengembangan sistem PKS Palm untuk memprediksi kecukupan nutrisi tanaman secara akurat.
Di sisi transparansi pasar, Malaysia memperkuat kepercayaan global melalui mandatory sertifikasi MSPO (Malaysian Sustainable Palm Oil) yang kini telah mencakup lebih dari 90% pemegang lisensi. MPOB juga memodernisasi rantai pasok dari sistem konvensional menuju sistem digital terintegrasi melalui Sawit Intelligent Management System (SIMS) dan sistem Geo-Sawit guna menjamin keterlacakan (traceability) produk dari kebun hingga ke pabrik pengolahan.














