• Jumat, 9 Oktober 2026
Berita Terbaru

WWF-Indonesia dan CPOPC Sepakati Kerjasama Perkuat Transparansi Rantai Pasok Komoditas Berkelanjutan di Pasar Global

Jakarta, SAWIT INDONESIA – WWF-Indonesia dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang menandai kemitraan strategis untuk memperkuat sistem komoditas berkelanjutan sekaligus pengakuan di pasar global.

Penandatanganan ini bertemakan “Green Partnership” yang bertempat di Jakarta, Jumat (18 September 2026), yang bertujuan memperkuat sistem keberlanjutan komoditas perkebunan di tingkat nasional maupun global, dengan fokus pada transparansi rantai pasok, sertifikasi, produksi yang bertanggung jawab, pelestarian keanekaragaman hayati, serta pelibatan petani swadaya dalam rantai pasok berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Izzana Salleh, Sekretaris Jenderal CPOPC, menjelaskan bahwa negara-negara produsen sawit dan pemangku kepentingan industri melakukan investasi besar dan menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperkuat praktik keberlanjutan, melindungi hak asasi manusia, serta meningkatkan penghidupan di sepanjang rantai pasok.

“Skema sertifikasi keberlanjutan nasional, termasuk ISPO dan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), mencerminkan komitmen kuat negara produsen dalam membangun keberlanjutan,” tambahnya.

Menurutnya, CPOPC menyadari bahwa kemajuan lebih lanjut masih diperlukan, terutama dalam memastikan petani kecil memiliki sumber daya, kapasitas, dan kesempatan yang dibutuhkan untuk berpartisipasi penuh dalam rantai pasok berkelanjutan. Karena itulah kemitraan seperti yang kami resmikan hari ini bersama WWF-Indonesia menjadi sangat penting.

“Dengan memadukan keahlian, pengalaman, dan jejaring masing-masing, kita dapat mewujudkan komitmen bersama menjadi aksi yang bermakna dan inklusif,” tambah Izzana.

CPOPC mendorong penguatan praktik dan tata kelola keberlanjutan di seluruh negara anggotanya, sementara WWF-Indonesia berkontribusi melalui keahlian dan pengetahuannya untuk mendukung pengembangan dan penguatan sistem transparansi rantai pasok, sertifikasi, dan produksi yang bertanggung jawab.

Salah satu bentuk upaya tersebut adalah memperkuat sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). WWF-Indonesia dan CPOPC memandang standar keberlanjutan ini perlu diperkuat dalam kerangka keberlanjutan global sehingga meningkatkan kredibilitas dan daya saingnya di pasar komoditas dunia.

CEO WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, menjelaskan bahwa kredibilitas komoditas perkebunan berkelanjutan dibutuhkan kolaborasi antara negara produsen, termasuk pelaku usaha, lembaga sertifikasi, masyarakat sipil, petani swadaya dan pasar global. Bagi kami, komoditas perkebunan berkelanjutan bukan sekadar isu rantai pasok, tetapi upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Bagi kami, kerjasama ini krusial untuk mendorong keberlanjutan komoditas di negara konsumen maupun produsen, juga dari sisi transparansi rantai pasok dan dukungan bagi petani kecil.”

“Kredibilitas komoditas perkebunan ini dapat diwujudkan dengan memastikan diproduksi tanpa mengorbankan hutan, keanekaragaman hayati, maupun hak dan penghidupan petani swadaya. Kami melihat adanya kesenjangan antara kapasitas produksi bersertifikasi dan penerimaan pasar global. Kerjasama dengan CPOPC akan memperkuat ISPO dan sistem sertifikasi nasional lain yang telah dikembangkan negara produsen, agar diterima di pasar global,” ujarnya.

Melalui kemitraan ini, WWF-Indonesia berupaya berkontribusi pada transisi rantai pasok komoditas perkebunan menuju sistem produksi yang bebas dari deforestasi dan konversi lahan ilegal, sekaligus mendukung upaya Indonesia dalam menjaga keutuhan ekosistem hutannya. Upaya tersebut penting untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan mengurangi risiko lingkungan, termasuk banjir dan kebakaran hutan, yang berdampak signifikan bagi masyarakat lokal dan satwa liar dilindungi.

Juga upaya mendorong permintaan terhadap produk yang ramah lingkungan dan berekolabel melalui kampanye “beli yang baik”, serta pengembangan sistem ketertelusuran melalui aplikasi Hamurni. Lebih jauh, kemitraan ini juga berkontribusi pada pencapaian target iklim dan lingkungan Indonesia yang lebih luas, target Second Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% pada 2030 melalui upaya sendiri dan hingga 43,20% dengan dukungan internasional.

Bagi CPOPC, kolaborasi ini merupakan langkah penting untuk memperkuat peran negara produsen dalam merumuskan solusi keberlanjutan yang praktis, berbasis sains, dan inklusif. Inti dari upaya ini adalah komitmen bersama negara-negara produsen sawit untuk memastikan petani kecil tidak tertinggal, namun berdaya agar dapat berpartisipasi aktif secara bermakna dalam transisi menuju rantai pasok yang lebih berkelanjutan dan diakui secara global.

Artikel Terkait