Perkebunan Kelapa Sawit Ikuti Regulasi

Minyak sawit merupakan jenis minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat dunia. Selain untuk pangan dan kosmetika, minyak sawit juga sangat berpotensi menjadi sumber energi terbarukan penganti minyak fosil. Indonesia merupakan negara produsen terbesar di dunia dengan luas sekitar 10 juta ha atau kurang dari 5% dari luas daratan Indonesia. Berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan tenatang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan, luas kawasan hutan dan perairan Indonesia sampai dengan 2013 adalah 129.425.443,29 hektar (Kementerian Kehutanan, 2014). Artinya, lebih dari 66% lahan di Indonesia digunakan untuk perlindungan keanekaragaman hayati, dan sisanya adalah areal penggunaan lain.

Seiring dengan meningkatkan kesadaran masyarakat global terhadap keanekaragaman hayati, isu berkelanjutan mulai ditumbuh kembangkan oleh berbagai pihak, termasuk di bidang perkebunan. Dalam konteks ini, Indonesia telah mengembangkan skema Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dimana keanekaragaman hayati menjadi salah satu kriteria yang harus dipenuhi oleh pemegang konsensi. Konservasi keanekaragaman hayati merupakan tulang punggung dari keberlanjutan itu sendiri, sehingga upaya untuk menjembatani kepentingan produksi dan pelestarian keanekaragaman hayati harus dikedepankan.

Dalam implementasinya, penerapan prinsip-prinsip konservasi tidaklah mudah karena setiap perkebunan memiliki kekhasan yang berbeda. Perkebunan kelapa sawit merupakan suatu lansekap yang sangat mungkin masih memiliki kantong-kantong habitat alami yang berpotensi sebagai rumah bagi satwa liat. Hal ini karena tidak seluruh bagian dri lahan dapat dikonversi menjadi kebun sawit, sehingga areal seperti lebungan, rawa, hutan rawa, goa, sungai, bukit dan lainnya tetap dipertahankan. Oleh karena itu pengembangan program pengelolaannya harus bersifat spesifik lokasi dengan memperhatikan karateristik habitat yang ada.

Industri perkebunan kelapa sawit di Indonesaia, mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam proses produksinya. Prinsip ini terlahir dari sebuah pemahaman bahwa perkebunan dibangun atas dasar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa, dengan suatu kesadaran bahwa kelestarian sumberdaya hayati merupakan kunci dari keberlanjutan itu sendiri. Oleh karena itu, konservasi keanekaragaman hayati menjadi salah satu aspek yang saat ini ditumbuh kembangkan dan menjadi bagian terintergrasi dalam proses budidaya tanaman kelapa sawit.

Sumber: Konservasi Keanekaragaman Hayati Di Lansekap Perkebunan Kelapa Sawit, GAPKI 2015

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp