• Jumat, 30 Oktober 2026
Inovasi

Akademisi AKPY Tawarkan Tiga Solusi Tingkatkan Rendemen Sawit

Praktisi Perkebunan dari Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Hartono, SP, MP, menguraikan persoalan penyebab rendahnya rendemen sawit serta solusi penyelesaiannya.

Hartono menjelaskan bahwa rendemen merupakan rangkaian pengelolaan kebun yang saling berkaitan. Faktor tersebut mencakup bahan tanaman, perawatan kebun, hingga ketepatan waktu panen.

“Rendemen itu dipengaruhi beberapa hal. Yang pertama varietas, yang kedua perawatan, dan yang ketiga waktu panen yang tepat,” ujar Hartono kepada pekebun dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026, di Bengkulu, beberapa hari lalu.

Menurut Hartono, langkah pertama untuk mengejar rendemen tinggi sebenarnya dimulai sebelum tanaman menghasilkan, yakni ketika pekebun menentukan bahan tanaman.

Penggunaan benih atau bibit dari sumber yang jelas menjadi penting karena karakter varietas sangat menentukan potensi produksi tandan sekaligus minyak.

Salah satu karakter yang perlu diperhatikan adalah ketebalan daging buah atau mesokarp. Bagian inilah yang menjadi sumber utama minyak sawit.

“Kalau yang ditanam dura, dagingnya tipis. Padahal yang menjadi minyak CPO adalah daging buah,” jelasnya.

Pemilihan bahan tanaman menjadi keputusan jangka panjang bagi pekebun. Ketika bibit yang digunakan tidak memiliki potensi produksi minyak yang baik, kondisi tersebut akan sulit diperbaiki setelah tanaman memasuki fase menghasilkan.

Dengan demikian, meningkatkan rendemen tidak cukup hanya dengan memperbaiki cara panen ketika bahan tanaman sejak awal memiliki potensi minyak yang rendah.

Tanaman Produktif Butuh Air dan Perawatan

Setelah tanaman memasuki fase menghasilkan, faktor berikutnya yang menentukan adalah pemeliharaan.

Hartono menekankan pentingnya menjaga tanaman agar memperoleh unsur hara, cahaya matahari dan air yang cukup. Ketiganya menjadi bagian penting untuk mendukung pertumbuhan dan pembentukan buah.

Dari ketiga faktor tersebut, ketersediaan air menjadi tantangan yang cukup besar karena sangat dipengaruhi kondisi iklim. Meski demikian, pekebun masih dapat melakukan upaya konservasi air di kebun.

“Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana air yang ada jangan sampai hilang begitu saja,” ujarnya.

Pekebun dapat menyesuaikan pengelolaan air dengan kondisi lahan, salah satunya melalui pembangunan embung atau tampungan air. Air hujan yang ditahan di areal perkebunan dapat menjadi cadangan ketika tanaman menghadapi periode kering.

Menurut Hartono, pengelolaan air bukan hanya berkaitan dengan bertahan hidupnya tanaman, tetapi juga mendukung tanaman agar tetap mampu menghasilkan TBS secara optimal.

TBS Besar Belum Tentu Rendemen Tinggi

Faktor ketiga sekaligus yang paling cepat dapat diperbaiki pekebun adalah ketepatan waktu panen.

Hartono mengingatkan bahwa ukuran tandan yang besar tidak otomatis menunjukkan rendemen yang tinggi. Jika TBS dipanen terlalu muda, minyak di dalam buah belum terbentuk secara optimal.

Ia menjelaskan, ketika buah masih berwarna hitam, pengisian minyak belum berlangsung maksimal. Seiring tingkat kematangan meningkat, warna buah berubah menjadi oranye hingga merah dan proses pengisian minyak berlangsung.

Tanda penting yang perlu diperhatikan pekebun adalah brondolan yang mulai lepas dari tandan.

“Begitu sudah ada brondolan yang lepas, proses pengiriman minyak dari pohon ke tandan sudah berhenti. Pada saat itu sebaiknya segera dipanen,” jelasnya.

Artinya, pekebun tidak cukup hanya melihat warna buah. Kriteria matang panen harus menjadi dasar untuk menentukan kapan TBS dipotong.

Sebaliknya, membiarkan buah terlalu lama di pohon setelah mencapai kematangan juga bukan pilihan yang baik. Ketika buah terlalu matang, kualitas TBS dapat menurun dan pembentukan asam lemak bebas (ALB) terus berlangsung.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap kualitas minyak dan nilai ekonomi TBS yang diterima pekebun.

Rotasi Panen Jangan Terlalu Panjang

Ketepatan panen juga berkaitan erat dengan rotasi panen.

Hartono menyarankan pekebun menjaga rotasi panen sekitar 7–10 hari agar tingkat kematangan buah yang dipanen lebih seragam.

Jika rotasi terlalu panjang, dalam satu kali kegiatan panen akan ditemukan campuran buah mentah, matang, hingga lewat matang. Kondisi ini membuat kualitas TBS yang dikirim ke PKS menjadi tidak seragam.

“Kalau sampai rotasi panennya 15 hari, 20 hari, bahkan 30 hari, kualitas TBS akan bermacam-macam. Buah mentah banyak, buah lewat matang juga banyak,” katanya.

Menurut Hartono, pengaturan rotasi panen menjadi salah satu langkah yang relatif mudah dilakukan pekebun karena tidak membutuhkan perubahan besar terhadap tanaman.

Perbaikan disiplin panen dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas TBS dari kebun yang sudah ada.

Rendemen Rakyat Masih Tertinggal dari Perusahaan

Kesenjangan rendemen tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Mukomuko.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, S.P., M.P., sebelumnya menyebut rendemen sawit rakyat di daerah tersebut masih berada pada kisaran 16–19 persen. Sementara itu, perkebunan perusahaan dapat mencapai sekitar 22–23 persen.

“Rendemen yang berasal dari kebun yang dimiliki oleh perusahaan kisarannya 22 sampai 23 persen. Tetapi yang dimiliki oleh rakyat itu kisaran 16, 17, 18, 19, tidak pernah mencapai 20,” ujar Hari.

Perbedaan tersebut menjadi gambaran bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk memperbaiki pengelolaan kebun rakyat.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu cara untuk mendorong perubahan tersebut. Pekebun perlu memahami bahwa produktivitas dan rendemen tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak TBS yang dihasilkan, tetapi juga seberapa baik kualitas TBS yang dipanen dan ditangani.

76 Pekebun Belajar dari Kebun hingga Panen

Persoalan tersebut menjadi salah satu materi dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diikuti 76 pekebun asal Kabupaten Mukomuko.

Pelatihan yang diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) tersebut tidak hanya memberikan pembelajaran teori, tetapi juga memperkuat pemahaman melalui praktik lapangan.

Sebanyak 76 peserta mendapatkan kesempatan melakukan kunjungan lapangan ke PT Bumi Raflesia Indah. Melalui kegiatan tersebut, pekebun dapat melihat secara langsung penerapan teknik pengelolaan kebun dan panen, sekaligus membandingkannya dengan praktik yang selama ini dilakukan di kebun rakyat.

Pembelajaran lapangan diharapkan membuat materi pelatihan tidak berhenti di ruang kelas. Pekebun dapat membawa pengetahuan tersebut kembali ke kebunnya masing-masing dan menerapkannya sesuai kondisi lapangan.

Peluang Perbaikan Ada di Tangan Pekebun

Dengan luas perkebunan sawit rakyat Mukomuko yang mencapai sekitar 108.000 hektare, perubahan kecil dalam praktik pengelolaan kebun berpotensi memberikan dampak besar terhadap produktivitas dan nilai ekonomi sawit daerah.

Hartono menilai, peningkatan rendemen tidak harus selalu dimulai dari investasi besar atau teknologi yang rumit.

Langkah awal justru dapat dilakukan dari hal-hal yang berada langsung dalam kendali pekebun: memastikan bahan tanaman memiliki potensi produksi minyak yang baik, merawat tanaman secara optimal, menjaga ketersediaan air, serta memanen TBS berdasarkan tingkat kematangan yang tepat.

Setelah itu, kedisiplinan menjaga rotasi panen menjadi bagian penting untuk memastikan buah yang dikirim ke PKS memiliki kualitas lebih seragam.

“Untuk mendapatkan rendemen CPO yang tinggi, mesti dipengaruhi oleh rotasi panen juga,” pungkasnya.

Bagi sawit rakyat Mukomuko, upaya meningkatkan rendemen dengan demikian bukan sekadar mengejar angka. Setiap tandan yang dipanen tepat waktu dan ditangani dengan benar merupakan bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah kebun pekebun.

Artikel Terkait