Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Aksi blokade sepihak oleh Forum Masyarakat Bumi Pekal (FMBP) diprotes petani sawit yagn merasa merugikan mereka dari aspek pendapatan. Semenjak 6 November 2024, FMBP menutup akses jalan ke PT Agricinal dengan motif perusahaan memenuhi tuntutan mereka. Akibatnya, petani sawit tidak dapat menjual buah sawitnya ke pabrik PT Agrincinal lalu terpaksa menjual TBS sawitnya ke pabrik sawit lain yang jaraknya puluhan kilometer dari lokasi mereka.
“Petani sangat dirugikan oleh blokade sepihak oleh sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Bumi Pekal. Sebulan ini petani kami tidak bisa menjual TBS ke Agricinal. Ini jelas merugikan petani dan masyarakat,” tegas Ketua Koperasi Perkebunan Makmur Mandiri (KPMM), Abdul Munir.
Abdul Munir menjelaskan blokade ini mengakibatkan anggota koperasi yang mayoritas petani sawit harus menanggung beban keuangan serius karena TBS kelapa sawit tidak bisa dijual langsung ke PT Agricinal. Dampak terburuknya adalah karyawan koperasi belum menerima gaji selama satu bulan akibat seretnya pendapatan dari penjualan TBS sawit.
Di lapangan, petani sawit mulai resah karena aksi blokade tak jelas kapan selesainya. Lantaran selama bertahun-tahun, petani sawit membangun hubungan baik dengan PT Agricinal, namun kini pengiriman terhenti akibat aksi blokade.
"Pihak koperasi berupaya negosiasi dan mediasi dengan pihak FMBP supaya TBS bisa masuk ke pabrik Agricinal. Tetapi mereka menolak tanpa alasan jelas. Kalau situasi ini terus berlanjut, bagaimana nasib kami? Kami dituntut karyawan, tetapi tidak ada pemasukan,” katanya.
Dijelaskan Munir bahwa tindakan FMBP ini bakalan merugikan masyarakat khususnya petani yang yang bergantung pada sektor perkebunan kelapa sawit. Lebih lagi petani sawit di wilayah ini rata-rata memiliki keluarga yang harus dinafkahi.
Jumlah anggota Koperasi Koperasi Perkebunan Makmur Mandiri mencapai 3.000 anggota petani mitra PT Agricinal dengan luasan lahan 6.000 ha. Koperasi ini telah berdiri sama dengan pengembangan PT Agricinal yang telah berjalan baik untuk membuat kebun plasma.
“Kami minta aparat penegak hukum bertindak tegas supaya konflik tidak menghancurkan kehidupan petani. Aksi blokade itu dilakukan secara sepihak oleh FMB, mana ada mereka peduli dengan petani sawit di sini,” ujar Munir.
Munir berharap agar konflik ini segera mendapatkan solusi sehingga aktivitas pengiriman TBS ke PT Agricinal dapat kembali normal.
Ketua Kelompok Koperasi Petani Mitra PT Agricinal, Partono menyebutkan aksi blockade ini mengakibatkan biaya operasional buah sawit menjadi membengkat dan membebani petani. Dikatapan Partono, biaya antar buah sawit ke PT Agricinal adalah Rp 500.000 per mobil L300 muatan 3 ton.
Setelah blokade dilakukan, biaya pengiriman buah naik menjadi Rp 750.000. Lebih lanjut, pasokan BBM solar yang biasa digunakan untuk penerangan dan kegiatan di perkebunan juga terhambat. PT Agricinal biasanya membutuhkan 30.000 ton per bulan, namun saat ini hanya mampu mendapatkan 5 ton per bulan.
Bagi perusahaan, kegiatan blokade sepihak ini berimbas kepada 828 karyawan dan 3.000 jiwa keluarga karyawan yang terganggu aktivitas sehari-harinya.
"Sejak blokade, semua aktivitas perusahaan dan karyawan terganggu. Akses truk antar jemput anak sekolah juga terhambat, terutama di awal pemblokadean. Truk-truk diperiksa, jalan-jalan dipasang kawat berduri, dan ditumpuk koral," pungkas Manager Legal PT Agricinal Afriyadi.






