• Jumat, 9 Oktober 2026
Profil Produk

Panen Lebih Praktis Produktivitas Lebih Tinggi

Galah Palm Protelah terbukti sesuai dengan kebutuhan pemanen di kebun yang mudah dan praktis digunakan para pemanen pemula dan professional di segala medan

Bagi pekebun dan pemanen sawit baik skala petani maupun perusahaan galah menjadi komponen penting bagi penunjang panen Tandan Buah Segar (TBS). Alat ini umumnya digunakan untuk membantu pemanen saat menanen TBS yang sudah tidak bisa dijangkau dengan dodos, sebab ketinggiannya telah melampaui batas ketinggian yang dijankau pemanen.

Seperti diketahui, para pemanen sawit akan menggunakan alat yaitu dodos dan egrek. Namun untuk penggunaan egrek masih harus menggunakan komponen lain yakni galah. Galah ini difungsikan sebagai pegangan dan penyambung jika objeknya tinggi. Maka perlu menggunakan komponen (galah) sebagai penyambung agar bisa mencapai objek (TBS) yang lebih tinggi di tanaman pokok sawit.

Namun, tak jarang para pemanen sawit di perkebunan banyak yang mengeluh saat menggunakan galah dengan ukuran di atas rata-rata dan kaku (tidak lentur). Yang diinginkan kebanyakan para pemanen menginginkan galah yang tidak terlalu berat dan cenderung kaku.

Pasalnya, dengan galah yang berat bahkan terlalu lentur akan mempengaruhi para pemanen. Dan berdampak pada hasil dan pendapatan para pemanen. Lantas, apakah ada produk galah yang dapat menjawab keinginan dari pemanen agar lebih bisa produktif dan tenaga yang digunakan tidak terporsir?

Kini, para pekebun dalam skala petani maupun perusahaan mendapat solusi untuk menjawab pertanyaan di atas. Salah satu produsen galah asal negeri Jiran, dan produknya sudah dipasarkan di berbagai negara produsen sawit dan kelapa.

Casey Ten dari Ten Asia Corporation Sdn Bhd menjelaskan pihaknya telah memproduksi galah yang sesuai dengan kebutuhan pasar (pemanen sawit di kebun).

“Dari 2010 merekomendasikan kepada para pekebun sawit untuk menggunakan produk (galah) dengan merek Palm Pro yang telah terbukti sesuai dengan kebutuhan pemanen di kebun,” ujarnya, saat ditemui di Jakarta, pada Mei lalu.

Dari informasi yang didapat tim redaksi Majalah Sawit Indonesia, galah merek Palm Pro telah dikenal dalam proses panen TBS (sawit) di Malaysia. Dan, terus berkembang kepasaran di berbagai negara penghasil sawit dan kelapa.

Bahkan, produksi dalam beberapa tahun terakhir produksi galah Palm Pro terus meningkat karena banyaknya permintaan. Terutama di negara-negara penghasil sawit seperti Malaysia, Indonesia, dan negara-negara Amerika Selatan termasuk Peru, Kolumbia, Brazil dan negara lainnya seperti Sri Lanka dan India.

“Hal ini menunjukkan Palm Pro telah mencapai standar dalam meningkatkan produk sehingga dapat diterima pasar di beberapa negara. Produk ini juga sangat membantu kekurangan buruh saat mengutip brondolan,” kata Casey Ten.

Djelaskan Casey Ten, ada 20-50% pengusaha tanaman sawit mengalami masalah kekurangan tenaga kerja (buruh) di perkebunan. Akibatnya ada pihak yang telah menunda rencana replanting. Langkah ini diambil karena berkurangnya tenaga kerja dan berkurangnya produksi yang disebabkan tanaman yang sudah tua.

“Sementara, di sisi lain, ada pengusaha sawit yang memanjangkan masa panen awalnya 3 kali panen dalam sebulan menjadi 1 – 2 kali sebulan. Cara seperti ini tidak sesuai dengan standar pemanenan buah sawit karena kualitas minyak akan menurun. Jika buah terlalu matang juga akan mengurangi kadar perahan minyak (OER),” jelasnya.

“Ada juga pekebun yang menjalankan tanam semula lebih awal dengan menumbangkan pokok di usia 20 tahun. Di usia itu, panen TBS mencapai 40 kaki yang semakin makan waktu dan tenaga. Padahal masih masa produktif, namun langkah ini diambil untuk menangani masalah kekurangan tenagakerja di kebun,” tambah Casey Ten.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 153)

Artikel Terkait