• Rabu, 7 Oktober 2026
Sajian Utama

Industri Sawit Butuh SDM Kompeten dan Adaptif

Transformasi pendidikan sawit untuk menyiapkan SDM yang kompeten dan adaptif dalam rangka menjawab beragam tantangan salah satunya produktitivitas.

Untuk menyamakan persepsi pada stakeholders sawit terkait kebutuhan sumber daya manusianya, INSTIPER Yogyakarta menggelar Workshop Sumber Daya Manusia Industri Perkebunan Kelapa Sawit dengan tema ‘Penyiapan SDM dalam Mendukung Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit’, di INSTIPER Yogyakarta, pada Selasa (9 Desember 2025).

Workshop ini terbagi menjadi tiga sesi. Pada sesi pertama, menghadirkan empat narasumber antara lain Baginda Siagian (Direktur Tanaman Kalapa Sawit dan Aneka Palma – Ditjen Perkebunan), Ir. Memet Kosasih Setia Putra (Direktur SDM dan Umum, PT Agrinas Palma Nusantara), Dr. Harsawardana (Rektor INSTIPER Yogyakarta) dan Lucki Bagus (Kepala Divisi Penyaluran Dana SDM Perkebunan – Badan Pengelola Dana Perkebunan/BPDP).

Di sesi kedua, dihadirkan tiga narasumber di antaranya. Urbanus Nangoy (Ketua Plantation Human Capital Asossiation Indonesia), Dr. Gulat Manurung (Ketua Umum APKASINDO), dan Dr. Sri Gunawan (Direktur AKPY STIPER).

Sedangkan pada sesi ketiga, menghadirkan narasumber Benyamin Basuki (Vice President Human Resource PT First Resource), Diundang P Hutapea (Vice President and General Affair PT Astra Agro Lestari), Michael Adryanto (Deputy Managing PT Karyamas Plantation), Agus Sutrisno (Human Capital Group Dept.Head, PT Bumitama Gunajaya Agro), Sutarto Hadi (VP Human Resources Management PT Teladan Prima Agro), Yongki (PT Cargill Indonesia), dan Imam Setyaji (Deputy HC Head, PT Wilmar Internasional). Ketiga sesi diskusi tersebut dipandu langsung oleh Dr. Purwadi (Direktur Pusat Sain Kelapa Sawit) – INSTIPER Yogyakarta.

Dr. Purwadi mengatakan dengan beragam tantangan dan potensi yang bisa dikembangkan industri kelapa sawit di Indonesia membutuhkan SDM dengan skill tinggi dan terampil.

“Maka lembaga penyelenggara (perguruan tinggi) harus bisa menjawab tantangan tersebut. Mengingat sektor industri kelapa sawit di Indonesia menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Untuk itu, perguruan tinggi terlebih yang fokus pada sektor perkebunan kelapa sawit harus siap mendidik SDM yang siap kerja di kebun dengan karakter kuat. Seperti yang sudah dilakukan INSTIPER Yogyakarta," katanya.

Seperti diketahui, SDM manusia merupakan faktor penting dalam mendukung suatu keberlanjutan tak terkecuali di sektor industri kelapa sawit, yang berperan besar pada perekonomian nasional dan daerah. Mengingat, industri kelapa sawit memiliki ekosistem besar yang mampu menyerap tenaga kerja cukup besar. Dari data yang ada, lebih dari 17 juta orang bekerja di sektor industri sawit, baik langsung maupun tidak langsung. Maka, tidak heran keberlanjutan industri sawit menjadi keniscayaan yang perlu didukung SDM yang kompeten dan terampil.

Lebih lanjut, Dr. Purwadi, menegaskan ingin mengajak pelaku usaha industri kelapa sawit dengan stakeholders untuk menyiapkan SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri sawit Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Harsawardana mengutarakan SDM jadi kata kunci sebuah keberhasilan suatu negara, tak terkecuali industri sawit.

"Bahwa kualitas SDM adalah faktor penentu kemajuan bangsa. Ada banyak negara kecil yang jauh lebih maju dan sejahtera dibandingkan kita. Padahal mereka tidak punya sawit, tidak punya sumber daya alam melimpah seperti Indonesia. Yang membedakan adalah kualitas manusianya,” ujarnya.

"Untuk itu, kami terus berinovasi dalam pembelajaran untuk mempersiapkan SDM di sektor kelapa sawit dengan langkah-langkah strategis. Salah satu dengan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi yang saat ini berkembang," imbuh Dr. Harsawardana.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi perkebunan tidak lagi cukup hanya menghasilkan sarjana dengan pengetahuan teori. Dunia kerja menuntut lebih - skill yang langsung dapat diterapkan, kecakapan inovasi, dan karakter yang tangguh.

“Sejak awal tradisi INSTIPER dibangun dari filosofi itu. Alumni kami dikenal siap kerja, bukan hanya siap belajar. Kini kami ingin melangkah lebih jauh,” jelasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, INSTIPER Yogyakarta semakin sering dilibatkan dalam agenda besar peningkatan sumber daya manusia sektor perkebunan. Kepercayaan itu, mendorong untuk merumuskan terobosan baru dalam sistem pembelajaran, mempersiapkan model pendidikan yang lebih kontekstual dengan teknologi kebun modern, mekanisasi, keberlanjutan, dan ekonomi hijau.

Transformasi pendidikan sawit

Terobosan dalam menyiapkan SDM di industri sawit juga dilakukan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY ‘STIPER’). Hal tersebut disampaikan Dr. Sri Gunawan (Direktur AKPY ‘STIPER’).

“Bahwa dalam menyiapkan SDM di industri sawit perlu ada perubahan (transformasi) pendidikan untuk sawit berkelanjutan dan menjawab tantangan yang ada,” ujarnya.

Dikatakan Dr. Sri Gunawan transformasi pendidikan untuk sektor sawit berkelanjutan bukan tanpa dasar, melainkan memang adanya kebutuhan dalam rangka mendukung sektor perkebunan sawit di masa kini dan mendatang. Dari hasil kajian yang dilakukan ada beberapa faktor yang mendasari perlunya transformasi pendidikan untuk keberlanjutan sektor sawit nasional.

“Setelah dipetakan antara potensi dan kebutuhan SDM di sektor sawit. Terlihat adanya gap kompetensi (kebun & PKS), mismatch lulusan, kurikulum tidak Link & Match dengan Dunia Kerja Dunia Industri/DUDI (tidak sesuai SKKNI), minim instruktur/praktisi industri di pendidikan, literasi data & digital rendah,” katanya.

“Untuk itu, dibutuhkan SDM yang inovatif, kreatif dan adaptif, baik di kebun (on-farm), PKS (off-farm) dan rantai pasok & sustainability. Kebutuhan SDM ini untuk jangka pendek menengah dan panjang,” tambah Dr. Sri Gunawan.

Lantas, kebutuhan SDM seperti apa yang diperlukan di sektor sawit? Pria yang menjabat sebagai Direktur AKPY-STIPER ini, menjelaskan di era teknologi yang tengah berkembang yakni mekanisasi, otomasi dan digitalisasi, sektor sawit memerlukan SDM yang harus memiliki kompetensi.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 170)

Artikel Terkait