Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan lingkungan dengan melakukan penanaman dan rehabilitasi mangrove di pesisir Pantai Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Sabtu, 14 September 2024. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemerintah untuk merehabilitasi mangrove di seluruh Indonesia.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menjelaskan bahwa program penanaman mangrove ini merupakan kolaborasi antara GAPKI dengan Kelompok Tani Talok di Desa Sabuai, Kecamatan Kumai. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antara Kemenko Maritim dan Investasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta berbagai asosiasi, termasuk GAPKI.
Desa Sabuai Terpilih untuk Rehabilitasi Mangrove
Menurut Mukti Sardjono, Desa Sabuai mengalami abrasi yang signifikan, sehingga dipilih sebagai lokasi penanaman mangrove oleh GAPKI. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). GAPKI telah mendapat mandat untuk melakukan rehabilitasi seluas 50 hektar di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan, dengan tahap awal dilakukan di area seluas 10 hektar di sepanjang pantai Desa Sabuai.
“Penanaman mangrove di Desa Sabuai ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, terutama dalam mencegah abrasi pantai,” ujar Mukti.
Keberhasilan Penanaman Mangrove Mencapai 90%
Penanaman mangrove yang dilakukan GAPKI sebelumnya di tahap pertama dan kedua telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Mukti mengungkapkan, tingkat kelangsungan hidup tanaman mencapai lebih dari 90%. Untuk menjaga keberhasilan di tahap ketiga, GAPKI akan menggunakan pelindung paralon untuk melindungi bibit mangrove dari ancaman kepiting.
“Dengan perlindungan ini, kami optimis tingkat keberhasilan penanaman mangrove akan semakin meningkat,” jelas Mukti.
Bukti Komitmen GAPKI dalam Konservasi Lingkungan
Program ini, menurut Mukti, merupakan wujud nyata komitmen GAPKI untuk menjaga kelestarian lingkungan. GAPKI tidak hanya fokus pada industri kelapa sawit, tetapi juga aktif berperan dalam melindungi ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove. Ia juga menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.
“Kami berharap langkah ini dapat menjadi contoh nyata dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir,” tambahnya.
Dukungan Pemerintah dan Masyarakat Lokal
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat, Kamaludin, yang mewakili Pj Bupati, menyambut baik langkah GAPKI dalam program ini. Menurutnya, penanaman mangrove tidak hanya berdampak ekologis tetapi juga berkelanjutan bagi ekonomi masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.
Kepala Desa Sabuai, Tohari, juga mengapresiasi dukungan GAPKI yang telah memberikan dampak positif bagi lingkungan desanya. Masyarakat Desa Sabuai terlibat aktif dalam seluruh proses, mulai dari persiapan hingga penanaman, yang juga meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya konservasi mangrove.
“Program ini telah membuka wawasan baru bagi masyarakat kami tentang pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Tohari.
Harapan Masa Depan untuk Ekosistem Pesisir
Dengan keberhasilan program penanaman mangrove yang telah dilakukan, GAPKI berharap kolaborasi ini akan terus berlanjut dan diperluas ke wilayah lain di Indonesia. Komitmen ini juga diharapkan menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan mendukung upaya pemerintah dalam rehabilitasi mangrove.
Penanaman mangrove di Desa Sabuai menjadi bukti nyata bahwa peran aktif GAPKI dalam melestarikan lingkungan tidak hanya terbatas pada industri sawit, tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir yang mendukung kehidupan masyarakat setempat.
Sumber: gapki.id






