Medan, SAWIT INDONESIA – Wakil Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Surya, mengapresiasi peranan PT Socfin Indonesia (Socfindo) sebagai penyelenggara Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (SCOPEX) 2026 yang bertemakan “Inovasi Kelapa Sawit yang Aplikatif dan Berkelanjutan” di Medan, Sumatera Utara.
“Penguatan riset, teknologi, kualitas sumber daya manusia (SDM), dan inovasi menjadi kunci utama kemajuan industri sawit ke depan. Karena itulah, industri sawit tidak hanya dituntut kuat secara ekonomi, melainkan harus bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial masyarakat,” ujar Surya dalam pembukaan SCOPEX 2026, Selasa (19/5/2026).
Surya berpesan agar riset tidak berhenti di laboratorium dan ruang diskusi saja, tetapi harus mampu diterapkan secara nyata. Selain itu, riset yang dijalankan PT Socfindo dapat membantu petani, meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, memperkuat daya saing, serta menjaga keberlangsungan lingkungan hidup.
Menurut Surya, industri sawit harus benar-benar mengimplementasikan risetnya untuk mendukung produktivitas petani dan daya saing sawit Indonesia di pasar global. Karena itulah, butuh sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. Kolaborasi harus diwujudkan melalui penguatan kemitraan oleh petani, penerapan teknologi tepat guna, penerapan hilirisasi industri, meningkatkan kualitas industri perkebunan dan menjaga kualitas lingkungan.
Sementara itu, Direktur PT Socfin Indonesia, Harold Williams, dalam pembukaannya, menjelaskan bahwa SCOPEX 2026 menjadi platform edukasi bagi pelaku industri kelapa sawit. Selain itu, Socfindo punya komitmen kuat membangun pemberdayaan masyarakat dan petani sawit yang berada di wilayah operasionalnya.
“Saat ini, industri sawit menghadapi beragam tantangan karena itulah butuh forum untuk berbagi pengetahuan sebagai upaya mencari solusi efektif untuk diterapkan di lapangan,” ujar Harold.
Ketua Panitia SCOPEX 2026, Indra Syahputra, mengatakan bahwa produksi kelapa sawit Sumut saat ini mencapai sekitar 2 juta ton per tahun. Ia menyebut produktivitas perusahaan rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare, sedangkan petani sekitar 2,5 ton per hektare.
“Bila kita ingin meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa menambah lahan, kita harus menggunakan bibit yang benar, tanam di tempat yang benar, dan mengelola dengan benar. Oleh karena itu, kita ada di sini untuk berdiskusi dan menemukan solusi bagi tantangan perkebunan sawit saat ini,” kata Indra.
“Harapan kami, SCOPEX menjadi: platform kolaborasi, menghasilkan ide nyata, memberikan dampak jangka panjang bagi industri,” jelasnya.
Rangkaian Acara
– Day 1 & 2 (19–20 Mei 2026): Full-day Seminar and Exhibition di Adimulia Hotel Medan, menampilkan sesi diskusi panel, presentasi inovasi, serta pameran teknologi dan layanan pendukung industri sawit.
– Day 3 (21 Mei 2026): Field Trip ke Kebun PT Socfin Indonesia, di mana peserta dapat menyaksikan langsung praktik terbaik (best practices) budidaya dan manajemen perkebunan modern.














