TOILI, SAWIT INDONESIA — Sebanyak 186 peserta dari Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, memperdalam praktik budidaya kelapa sawit melalui kunjungan lapangan ke kebun PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) di Toili, Sabtu (19 September 2026).
Kegiatan field trip tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.
Kunjungan lapangan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungkan materi yang telah diterima di ruang kelas dengan praktik pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara langsung.
Dosen Praktisi Kebun AKPY, Ir. Tri Haryadi, mengatakan kunjungan ke kebun KLS diharapkan dapat memperdalam pemahaman peserta mengenai praktik budidaya kelapa sawit yang telah dipelajari selama pelatihan.
“Selama empat hari kita sudah belajar di kelas, mulai dari persiapan lahan, penyiapan bibit, penanaman, perawatan tanaman belum menghasilkan, tanaman menghasilkan, hingga pemupukan,” kata Tri saat memberikan sambutan di Aula Kebun KLS.
Menurut dia, materi yang diterima di kelas perlu diperkuat dengan melihat secara langsung bagaimana prinsip-prinsip budidaya diterapkan di lapangan.
Karena itu, Tri berharap jajaran manajemen dan tim kebun KLS dapat memberikan tambahan pengetahuan kepada peserta, termasuk mengenai praktik pengelolaan tanaman yang diterapkan di perusahaan.
“Harapan kami, Pak GM dan seluruh jajarannya bisa memberikan tambahan pencerahan berkaitan dengan budidaya yang sudah dilaksanakan di perusahaan ini,” ujarnya.
Dari Teori ke Praktik
Tri menjelaskan, dalam pelatihan peserta diperkenalkan dengan prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP). Prinsip tersebut menjadi penting agar pengelolaan kebun tidak dilakukan sekadar untuk menanam dan memanen, tetapi diarahkan untuk mencapai produktivitas yang optimal.
“Menanam sawit bukan asal menanam, tetapi kita sudah pikirkan bahwa kita menanam sawit untuk tujuan produktivitas,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu ukuran yang perlu menjadi perhatian pekebun adalah pencapaian produktivitas kebun. Menurutnya, pekebun dapat dikatakan naik kelas apabila mampu meningkatkan produktivitas hingga minimal 24 ton per hektare per tahun atau rata-rata sekitar 2 ton per hektare per bulan.
Angka tersebut, kata Tri, menjadi sasaran antara yang perlu dikejar pekebun. Sebab, potensi produktivitas tanaman kelapa sawit yang berasal dari bahan tanam unggul bahkan dapat mencapai lebih dari 30 ton per hektare per tahun.
“Produsen kecambah selalu mengatakan potensi produktivitasnya bisa 30 ton, di atas 30, bahkan sampai 33 atau 35 ton per hektare per tahun. Tetapi kita harus sampai dulu di 24 ton per hektare per tahun,” ujarnya.
Menurut dia, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan potensi genetik tanaman. Penerapan teknik budidaya yang tepat, mulai dari pemilihan bibit, penanaman, pemeliharaan hingga pemupukan, menjadi bagian penting untuk mengubah potensi tersebut menjadi hasil nyata di kebun.
Kesempatan Bertukar Pengalaman
Melalui field trip tersebut, Tri mendorong peserta tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi aktif berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan praktisi perkebunan di KLS.
Ia meminta peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melihat kondisi kebun secara langsung, mengajukan pertanyaan, serta membandingkan praktik yang diterapkan di lapangan dengan materi yang telah diterima selama pelatihan.
“Kami berharap seluruh peserta bisa memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk berdiskusi, tukar pengalaman dengan tim dari KLS, dan juga dibantu para instruktur dalam memberikan penjelasan kondisi yang ada di lapangan,” katanya.
Kegiatan lapangan, lanjutnya, diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang melengkapi materi di kelas. Peserta dapat memperoleh gambaran lebih konkret mengenai penerapan budidaya kelapa sawit di tingkat operasional kebun.
Tri juga menyampaikan salam dari Direktur AKPY yang tidak dapat hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, Direktur AKPY berharap kerja sama yang telah terjalin dengan KLS dapat terus berlanjut dan berkembang pada masa mendatang.
Selain aspek teknis, Tri mengingatkan peserta untuk menjaga sikap selama berada di lingkungan perusahaan. Sebagai tamu, peserta diminta menjaga ketertiban dan kebersihan selama mengikuti rangkaian field trip.
“Jangan meninggalkan sampah di mana-mana. Kalau nanti di lapangan membawa snack atau makan siang, setelah selesai marilah kita kumpulkan di tempat yang sudah disediakan,” ujarnya.
Bagi Tri, kedisiplinan peserta selama kunjungan menjadi bagian dari proses pembelajaran. Field trip tidak hanya diharapkan memperkuat kompetensi teknis, tetapi juga membangun sikap profesional yang diperlukan dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
Kunjungan ini menjadi jembatan antara pembelajaran di ruang kelas dan praktik di lapangan bagi 186 peserta pelatihan asal Banggai. Sebagai bagian dari Program Pengembangan SDMP 2026 yang diselenggarakan AKPY dengan dukungan BPDP dan Ditjenbun, kegiatan tersebut diharapkan membuat pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat diterapkan untuk mendorong peningkatan produktivitas kebun masing-masing.






