Palembang, SAWIT INDONESIA - Belajar mengelola kebun kelapa sawit tidak cukup hanya di ruang kelas. Sebanyak 174 petani Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) langsung mempraktikkan berbagai teknik budi daya, mulai dari pengajiran, pembibitan, pengendalian gulma hingga penggunaan traktor.
Pembelajaran tersebut berlangsung dalam Pelatihan Budi Daya Kelapa Sawit di salah satu hotel di Palembang, 26–31 Agustus 2026. Selama enam hari, peserta Angkatan XXIV hingga XXIX mengikuti ceramah, diskusi, praktikum, dan kunjungan lapang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit 2026, melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training.
Pada persiapan lahan, peserta tidak hanya mempelajari pengajiran, tetapi langsung mempraktikkan pola segitiga sama sisi dengan jarak 9 meter dan 7,8 meter. Praktik berlanjut pada pembibitan, termasuk pemindahan bibit dari fase Pre-Nursery (PN) ke Main-Nursery (MN) menggunakan ponjok.
Saat kunjungan lapang, peserta mempelajari jenis tandan sawit dan mempraktikkan egrek, kastrasi, perawatan piringan secara manual maupun menggunakan mesin, hingga pengoperasian traktor. Peserta juga aktif berdiskusi dengan narasumber dari IPB Training dan PT Dutareka Mandiri mengenai persoalan yang mereka hadapi di kebun.
Prof. Hariyadi dari IPB Training mengatakan pendekatan praktik penting agar materi yang diberikan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan langsung oleh petani di kebun.
“Petani tidak cukup hanya mengetahui teorinya. Mereka perlu memahami alasan di balik setiap tindakan dan mampu mempraktikkannya dengan benar, sehingga keterampilan yang diperoleh selama pelatihan bisa langsung diterapkan di kebun,” ujar Prof. Hariyadi.
Menurutnya, pengalaman petani di lapangan juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Berbagai persoalan yang dibawa peserta dari kebun dapat menjadi bahan diskusi untuk menemukan cara pengelolaan yang lebih tepat.
Praktik diterapkan pula pada pengendalian gulma. Peserta belajar mengidentifikasi gulma pada tanaman menghasilkan (TM) dan tanaman belum menghasilkan (TBM), menggunakan alat semprot dan APD, serta melakukan kalibrasi dan penyemprotan.
Pada materi pemupukan, peserta melakukan praktik pemupukan sekaligus mengukur pH tanah dan pupuk menggunakan kertas lakmus. Sementara pada pemeliharaan TBM dan TM, pengalaman peserta menjadi bahan diskusi, termasuk melalui foto kondisi kebun untuk mendapatkan masukan narasumber.
Materi pelatihan juga mencakup regulasi, pemilihan bahan tanam, pengelolaan tanah, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Peserta mempelajari konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), identifikasi hama dan gejala serangan, deteksi dini, sensus HPT, agensia hayati, dan beneficial plant. Persoalan serangan tikus di lahan peserta turut dibahas.
Dorong Produksi dan Kesejahteraan
Wakil Bupati OKU Marjito Bachari mendorong pekebun meningkatkan kemampuan mengelola kebun, mulai dari pengadaan bahan tanam berkualitas hingga pemupukan yang tepat.
“Petani bisa berbudidaya secara optimal sehingga menghasilkan produksi yang maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan pekebun,” ujar Marjito.
Penguatan kompetensi dinilai penting karena luas perkebunan kelapa sawit Sumatera Selatan mencapai sekitar 1,3 juta hektare dan tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota, termasuk Kota Palembang.
Sekretaris Dinas Perkebunan Sumsel Dian Eka Putra menyebut sekitar 60 persen perkebunan sawit dikuasai perusahaan, sedangkan 35–45 persen merupakan perkebunan masyarakat dalam bentuk plasma, swadaya maupun kepemilikan langsung.
Menurut Dian, tantangan ke depan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memenuhi regulasi dan standar keberlanjutan, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Ia juga mengingatkan agar pembukaan dan peremajaan (replanting) kebun tidak dilakukan dengan cara membakar.
“Kami menghimbau praktik budidaya dengan cara membakar harus dihilangkan. Lakukan dengan cara yang lebih baik dan tidak melanggar regulasi, karena bisa mencemari kualitas udara dan menimbulkan bahaya lainnya,” tegas Dian.
Ia berharap peningkatan produktivitas berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap regulasi dan perlindungan lingkungan agar sawit tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Bagi 174 petani OKU, perpaduan teori, praktik, dan pengalaman lapangan menjadi kesempatan untuk menguji kembali kebiasaan budi daya yang selama ini dilakukan. Bekal tersebut diharapkan dapat diterapkan kembali di kebun masing-masing untuk mendorong pengelolaan yang lebih tepat, produktif, dan berkelanjutan.






