Bengkulu, SAWIT INDONESIA - Kunjungan lapangan atau field trip yang diikuti 156 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara ke PT Bumi Rafflesia Indah, Senin (31 Agustus 2026), menjadi lebih dari sekadar kegiatan melihat praktik perkebunan.
Field trip tersebut merupakan bagian dari rangkaian pelatihan Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Peserta merupakan pekebun dari kelas Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit serta kelas Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit. Melalui kunjungan ini, peserta tidak hanya melihat praktik pengelolaan kebun secara langsung, tetapi juga mendapat ruang untuk bertukar pengalaman dengan instruktur dan pengelola kebun perusahaan.
Peserta dari kedua kelas pelatihan diajak melihat langsung sejumlah pekerjaan di kebun, antara lain pemupukan, panen, dan penanganan hasil panen. Praktik tersebut kemudian menjadi bahan diskusi untuk membandingkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dengan penerapan di lapangan.
Mewakili Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, S.P., M.P., Indra Kurniawan, S.P., M.Si., mengatakan kunjungan lapangan dirancang agar peserta tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga memiliki kesempatan menyampaikan pengalaman yang selama ini mereka peroleh dalam mengelola kebun.
“Harapannya, Bapak dan Ibu bisa melihat praktik yang dilakukan di PT Bumi Rafflesia Indah seperti apa. Mungkin Bapak dan Ibu punya pengalaman yang bisa diutarakan atau dibagikan, ataupun mungkin ini menjadi sebuah hal baru yang bisa juga diadopsi ketika sudah pulang ke rumah masing-masing,” ujar Indra.
Menurutnya, pola belajar seperti itu penting karena kondisi kebun tidak selalu sama. Praktik yang diterapkan di perusahaan dapat menjadi referensi bagi pekebun, sementara pengalaman pekebun juga dapat menjadi masukan dalam melihat berbagai persoalan teknis di lapangan dari perspektif yang berbeda.
Pendekatan tersebut mendapat sambutan positif dari Kepala Kebun PT Bumi Rafflesia Indah, Agustinus Hutasoit. Ia mengatakan pihaknya terbuka terhadap kemungkinan adanya pengetahuan baru maupun masukan dari peserta dan instruktur selama kunjungan berlangsung.
“Belum tentu yang sudah kami aplikasikan sudah sesuai. Ataupun mungkin akan ada ilmu-ilmu baru. Ini akan menjadi kolaborasi yang baik khususnya buat kami,” kata Agustinus.
PT Bumi Rafflesia Indah memiliki areal perkebunan sekitar 396,67 hektare dan dikelola dengan standar serta budaya kerja perkebunan skala perusahaan. Namun, Agustinus menilai standar pengelolaan yang sudah diterapkan tetap perlu dievaluasi dan terbuka untuk disempurnakan.
Karena itu, kunjungan 156 pekebun peserta kelas Teknis Budidaya serta Teknis Panen dan Pascapanen tidak diposisikan sebagai proses belajar satu arah. Peserta dapat mengamati bagaimana perusahaan menjalankan pekerjaan teknis, sementara perusahaan memperoleh kesempatan untuk berdiskusi dengan pekebun dan instruktur mengenai praktik, pengalaman, maupun pendekatan lain yang mungkin dapat diterapkan.
“Mari kita belajar bersama di PT Bumi Rafflesia Indah ini. Ketika memang ada yang baik dari sini, harapannya bisa menjadi yang diimplementasikan bagi Bapak dan Ibu sekalian,” ujar Agustinus.
Indra menambahkan, pembelajaran lapangan menjadi semakin penting karena materi pelatihan diberikan secara intensif dalam waktu yang relatif singkat. Peserta kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit telah mengikuti pelatihan sejak 27 Agustus, sedangkan peserta kelas Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit dari Kabupaten Mukomuko mulai mengikuti pelatihan sejak 28 Agustus.
Materi yang dipelajari mencakup berbagai aspek pengelolaan kebun. Pada kelas budidaya, peserta mendapatkan materi mulai dari persiapan lahan hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Sementara kelas panen dan pascapanen membahas antara lain organisasi panen, teknik panen, penanganan hasil, hingga ketelusuran.
“Harusnya kalau kita kuliah enam semester atau satu semester enam bulan, kami press hanya enam hari. Jadi, kami terima kasih sekali atas antusias Bapak dan Ibu semuanya,” katanya.
Melalui kunjungan tersebut, AKPY berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai teori, tetapi berkembang melalui proses mengamati, berdiskusi, membandingkan, dan memilih praktik yang relevan untuk diterapkan di kebun masing-masing.
Di sisi lain, keterbukaan PT Bumi Rafflesia Indah menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi perkebunan dapat dibangun melalui kolaborasi. Perusahaan, instruktur, pemerintah daerah, dan pekebun memiliki ruang yang sama untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya AKPY bersama BPDP dan Ditjenbun dalam memperkuat kompetensi sumber daya manusia perkebunan melalui Program SDMP 2026. Pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui materi di dalam kelas, tetapi diperkuat dengan pengalaman langsung di lapangan dan pertukaran pengetahuan antara pekebun dengan pelaku usaha perkebunan.
Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan tidak sekadar mengetahui teori, tetapi mampu menilai praktik, mengambil pembelajaran, dan mengadaptasi pengetahuan yang relevan untuk meningkatkan pengelolaan kebun kelapa sawit setelah kembali ke daerah masing-masing.






