• Senin, 21 September 2026
Artikel

Target Dampak Pelatihan: Dari Kelas ke Kebun

LUWUK, SAWIT INDONESIA — Pelatihan teknis budidaya kelapa sawit bagi 186 pekebun dan penyuluh Kabupaten Banggai tidak ditargetkan berhenti pada peningkatan pengetahuan. Dampak utamanya diharapkan terlihat dari perubahan praktik budidaya di kebun yang pada akhirnya mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan pekebun.

Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Sri Gunawan, mengatakan peserta harus mampu membawa pulang pengetahuan yang diperoleh selama enam hari pelatihan dan menerapkannya di kebun masing-masing.

“Jangan hanya mendapatkan sertifikat. Apa yang dipelajari selama pelatihan harus diterapkan di kebun,” kata Dr. Sri Gunawan saat menutup Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit di Luwuk, Minggu (20/9/2026).

Menurut Dr. Sri Gunawan, perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal mendasar, seperti penggunaan benih bersertifikat, pemupukan yang tepat, menjaga kesehatan tanah, pemanfaatan bahan organik, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga penerapan praktik budidaya yang lebih baik.

Dampak berikutnya yang diharapkan adalah meningkatnya produktivitas tanaman tanpa harus memperluas lahan. Pekebun didorong mengoptimalkan kebun yang sudah ada melalui perbaikan teknik budidaya dan efisiensi penggunaan input.

“Potensi kelapa sawit di Banggai cukup besar. Karena itu, kebun yang sudah ada harus diintensifkan dengan menerapkan budidaya yang benar,” ujarnya.

Dr. Sri Gunawan juga menekankan bahwa peningkatan produktivitas harus diikuti dengan efisiensi biaya. Di tengah kenaikan harga pupuk, pekebun perlu mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar kebun, termasuk bahan organik, untuk menjaga kesehatan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Selain berdampak pada kebun peserta, pelatihan juga diharapkan menimbulkan efek berantai. Sebanyak 186 peserta tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi diharapkan menjadi penggerak pengetahuan di kelompok tani dan lingkungan masing-masing.

Penyuluh yang mengikuti pelatihan juga memiliki peran penting dalam memperluas penerapan pengetahuan tersebut kepada pekebun lain.

“Ilmu yang diperoleh jangan berhenti pada Bapak-Ibu. Harus dibawa ke kebun dan ditularkan kepada pekebun lainnya,” kata Dr. Sri Gunawan.

Target lainnya adalah terbentuknya kelembagaan pekebun yang aktif. Dr. Sri Gunawan mendorong peserta membangun kelompok atau koperasi yang tidak hanya muncul ketika ada bantuan, tetapi mampu mengelola anggotanya secara berkelanjutan.

Kelembagaan yang kuat akan memudahkan pekebun mengakses berbagai program pemerintah, seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), sarana dan prasarana, bantuan alat, hingga sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Dengan demikian, keberhasilan pelatihan SDMP 2026 di Banggai tidak hanya diukur dari 186 orang yang selesai mengikuti pelatihan, tetapi dari sejauh mana pengetahuan tersebut berubah menjadi praktik di lapangan.

Ujungnya adalah kebun yang lebih produktif, penggunaan input yang lebih efisien, kualitas hasil yang lebih baik, kelembagaan pekebun yang lebih kuat, serta peningkatan kesejahteraan pekebun.

Artikel Terkait