• Jumat, 9 Oktober 2026
Artikel

Suplemen Kesehatan Berbasis Sawit Bakal Dukung MBG

Masyarakat bakal menikmati produk suplemen kesehatan yang mengandung vitamin A dan E dari sawit. Sebagai upaya mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk terus menjalankan hilirisasi industri kelapa sawit, khususnya pada produk Betacarotene (Pro Vitamin A) dan Tocopherol (Vitamin E). Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika pada Rapat Kick Off Kerja Sama Riset Kolaboratif antara Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) dengan PT Kimia FarmaTbk di Jakarta, Jumat (9/5). Kerjasama ini untuk mengembangkan produk suplemen kesehatan berbasis kelapa sawit sebagai pendukung program makan bergizi gratis (MBG).

“Riset Kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk mendukung kecukupan nutrisi masyarakat melalui produk kesehatan yang berasal dari komoditas andalan nasional, kelapa sawit, termasuk dalam rangka menanggulangi stunting dan wasting,” ungkap Putu.

Upaya tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden RI untuk mengoptimalkan peran kelapa sawit dalam ketahanan nutrisi nasional, melengkapi peran kelapa sawit yang saat ini dimanfaatkan sebagai sumber ketahanan energi melalui bahan bakar nabati, serta sebagai sumber ketahanan pangan melalui minyak goreng sawit dan produk lemak pada tanpangan lainnya.

Selama ini, masyarakat luas belum menyadari bahwa minyak sawit mengandung nutrisi penting seperti Betacarotene, Tocopherol, MCT (Medium Chain Triglyceride), Squalane, dan Antioxidants yang berkhasiat menjaga kesehatan tubuh manusia. Proses produksi minyak sawit modern melalui pemurnian minyak secara kimiawi justru menghilangkan kandungan nutrisi penting alami dari minyak sawit. Sehingga kebutuhan vitamin dapat dipenuhi dari suplemen kesahatan sintetik atau dari sumberl ainnya.

“Suplementasi vitamin dari sumber nabati, termasuk dari minyak kelapa sawit yang diproses alami, merupakan opsi cerdik untuk menjaga kecukupan nutrisi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak sekolah dan ibu hamil atau menyusui,” ungkap Putu.

Dirjen Industri Agro menambahkan, Kemenperin melengkapi dukungan fasilitasi riset kolaboratif dengan kegiatan penyusunan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) produk suplemen kesehatan berbasis kelapa sawit sebagai pendukung program MBG. Keberadaan SNI produk suplemen kesehatan ini sangat penting untuk membuka peluang seluruh pihak, baik pihak BUMN, swasta, dan/atau pihak lain untuk dapat terlibat dalam program nasional menjaga kecukupan nutrisi masyarakat termasuk melalui program MBG.

“Rapat kick off juga dimaksudkan untuk membentuk pioneering model kerjasama kolaboratif antar pihak sehingga mendukung upaya mentransformasikan inovasi hasil riset menjadi skala komersial, dengan fasilitasi dari Kementerian Perindustrian,” ujar Putu.

Dalam hal ini, Kemenperin akan memfasilitasi diadakannya pertemuan teknis ilmiah untuk membulatkan konsep pengembangan produk suplemen bersama ahli atau pakar gizi nasional. Lebih lanjut, Kemenperin akan menjembatani aspek legal kerja sama temasuk manajemen kekayaan intelektual serta menentukan requirements agar hasil riset kolaboratif ini dapat diimplementasikan menjadi program skala nasional, khususnya mendukung program MBG.

“Diharapkan model pionir collaborative research antara pihak MAKSI dan PT Kimia FarmaTbk dalam produk suplemen kesehatan berbasis kelapa sawit ini dapat menjadi tonggak sejarah baru pengembangan bidang industri agro yang masih terbuka lebar dan potensial dieksplorasi mendalam hingga sampai pada skala industri komersial,” jelas Putu.

Ketua Umum MAKSI, Dr.DarmonoTaniwiryono mengatakan keberadaan nutrisi selain lemak dari buah sawit terabaikan selama lebih dari 114 tahun sejak. Nutrisi selain lemak yang ada di buah kelapa sawit adalah karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan polofenol.

“Mengapa hanya lemak yang selama ini diproduksi? Karena pasarnya sudah terbangun sejak jaman Revolusi Industri di Eropa, dan kemudian berkembang sampai dengan saat ini termasuk berkembang ya berbagai jenis industri turunan dari lemak,” tambahnya.

Menurut Darmono, salah satu jenis nutrisi menjadi primadona maka nutrisi lain dianggap pengotor yang kemudian harus dihancurkan salah satunya dengan paparan sunhu tinggi dan berakhir di kolam limbah cair yang pada akhir gilirannya menimbulkan masalah baru yaitu pelepasan gas metan yang mahal pemecahannya.

Sejak tahun 2015 secara intensif diungkap kembali bahwa bahan yang terbuang termasuk nutrisi bernilai kesehatan tinggi yaitu betakaroten dan Vitamin E dalam bentuk tocopherol dan tocotrienol.

MAKSI, dikatakan Darmono, berinisiatif mengusulkan kepada pemerintah untuk memanfaatkan kedua jenis vitamin alami tersebut untuk pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat yang kini sedang digalakkan pemerintah melalui program MBG.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 163)

Artikel Terkait