• Senin, 12 Oktober 2026
Analisis

Strategi Pertahanan Biologis Terintegrasi Hadapi Ganoderma

Akademisi muda dan peneliti AKPY-STIPER, Julsento, memperkenalkan pendekatan sistem pertahanan biologis berlapis yang terintegrasi untuk menghadapi Ganoderma mulai pencegahan, penguatan tanaman, hingga pemulihan produktivitas.

Pengendalian Ganoderma di perkebunan kelapa sawit tidak lagi cukup dipandang sebagai upaya membasmi jamur penyebab penyakit. Tantangan penyakit yang dapat bertahan di lingkungan perakaran dan terbawa dari satu siklus tanaman ke siklus berikutnya membutuhkan cara pandang yang lebih menyeluruh.

Paradigma tersebut menjadi salah satu gagasan yang mengemuka dalam sesi sharing knowledge SIEXPO 2026 di Pekanbaru, Riau, Jumat (7/8/2026).

Julsento, S.P., M.Sc., akademisi muda sekaligus peneliti AKPY-STIPER dan tim ahli PT Gadasakti Agritek Pratama dengan brand AUSSIE, memperkenalkan pendekatan pengelolaan Ganoderma melalui sistem pertahanan tanaman secara berlapis.

Menurutnya, menghadapi Ganoderma bukan sekadar persoalan bagaimana membunuh patogen. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana mencegah sumber infeksi, memperkuat kemampuan tanaman menghadapi tekanan penyakit, kemudian memulihkan tanaman agar kembali produktif.

“Mengendalikan Ganoderma membutuhkan lebih dari sekadar racun jamur. Kebun membutuhkan sistem pemulihan yang holistik dan berkelanjutan,” ujar Julsento.

Dalam sesi tersebut, Julsento mengajak peserta melihat Ganoderma dari sisi yang lebih mendasar. Jamur tersebut pada awalnya merupakan bagian dari ekosistem sebagai pengurai material tanaman yang telah lapuk.

“Ganoderma ini sebenarnya dahulu merupakan jamur pengurai tanaman-tanaman hutan yang sudah lapuk. Namun, ketika kita mengubah tanaman hutan menjadi tanaman budidaya, jamur yang sebelumnya tidak dianggap mengganggu kemudian menjadi patogen bagi tanaman budidaya,” jelasnya.

Persoalan muncul ketika material tanaman dari generasi sebelumnya masih berada di lahan dan menjadi sumber inokulum. Tunggul, material berkayu, maupun sisa akar dapat menjadi bagian dari mata rantai penyebaran patogen.

Oleh Karena itu, keberadaan Ganoderma tidak selalu terlihat dari tanaman yang sudah menunjukkan gejala. Patogen dapat berada di lingkungan perakaran sebelum tanaman memperlihatkan kondisi yang secara kasatmata dianggap sakit.

“Yang perlu diketahui, Ganoderma menyebar kuat melalui akar,” tegasnya.

Karakter inilah yang menurut Julsento membuat pengelolaan penyakit perlu dilakukan sejak awal, bahkan sebelum tanaman baru ditanam.

Replanting, Jangan Sekadar Ganti Tanaman

Fase replanting menjadi salah satu titik penting dalam pengendalian Ganoderma. Bagi Julsento, penanaman kembali bukan sekadar mengganti tanaman tua dengan tanaman baru, tetapi kesempatan untuk memutus rantai masalah yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Jika sumber inokulum tidak dikelola dengan baik, tanaman baru berpotensi menghadapi tekanan yang sama. Karena itu, sanitasi tunggul dan akar, pengelolaan material sisa tanaman, serta persiapan lahan harus menjadi bagian dari strategi sejak awal.

“Kalau kita melubangi, melakukan sanitasi, membuat parit, belum tentu tanaman di sampingnya atau di sekitar aman. Karena Ganoderma menyebar kuat melalui akar,” katanya.

Menurutnya, persoalan Ganoderma telah menjadi perhatian di sejumlah sentra sawit. Sumatera Utara menjadi salah satu wilayah dengan persoalan serangan yang tinggi, sementara kasusnya juga ditemukan di Riau dan sejumlah wilayah Kalimantan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa strategi pengendalian tidak bisa hanya mengandalkan tindakan setelah gejala muncul. Pencegahan harus ditempatkan sebagai bagian penting dari manajemen kebun.

Perubahan paradigma yang ditawarkan Julsento terletak pada cara melihat tanaman yang terserang atau berada di bawah tekanan Ganoderma.

Selama ini, pengendalian sering berfokus pada patogen. Namun, menurutnya, tanaman juga harus diperlakukan sebagai bagian utama dari sistem pengendalian.

Patogen ditekan, tetapi tanaman harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri. Setelah mengalami tekanan, tanaman juga membutuhkan dukungan agar jaringan dan fungsi fisiologisnya dapat pulih.

Ia menggambarkan pendekatan tersebut seperti sistem pertahanan pada tubuh manusia. Ketika seseorang menghadapi penyakit, upaya pemulihan tidak hanya dilakukan dengan mengatasi penyebab penyakit, tetapi juga dengan memperkuat daya tahan tubuh.

“Kadang-kadang ketika kita sakit, bukan penyakitnya saja yang diserang, tetapi imun kita diperkuat. Ketika tubuh mulai kuat, kita bisa melakukan pertahanan terhadap penyakit,” jelasnya.

Maka, menurut Julsento, pendekatan terpadu setidaknya mencakup empat aspek, yakni preventif, kuratif, pemenuhan nutrisi, dan pemulihan tanaman.

Ukuran keberhasilan pun tidak berhenti pada berkurangnya patogen. Tanaman harus mampu bertahan, memperbaiki kondisi fisiologisnya, dan kembali menghasilkan produksi.

“Percuma kalau hanya bisa mengendalikan jamur, tetapi tanaman tidak kembali seperti kondisi normal dan tidak menghasilkan produksi. Karena itu, tanaman juga perlu dipulihkan,” katanya.

Tiga Lapis Pertahanan Tanaman

Konsep tersebut kemudian diperkenalkan melalui brand AUSSIE dengan pendekatan Integrated Agronomy Defense System. Pendekatan ini menempatkan pengelolaan Ganoderma dalam tiga lapisan pertahanan yang saling melengkapi.

Lapisan pertama adalah pengendalian dan pencegahan patogen.

Tahap ini diarahkan untuk membantu mengendalikan dan mencegah Ganoderma, busuk akar, busuk pucuk, hingga Curvularia, sekaligus menekan risiko munculnya dan menyebarnya inokulum baru.

Pendekatan tersebut menggunakan fungisida organik sebagai bagian dari strategi pengendalian.

Lapisan kedua adalah active defense atau aktivasi pertahanan tanaman.

Pada tahap ini, perhatian tidak hanya diberikan kepada patogen, tetapi juga kepada respons tanaman. Tanaman didorong agar memiliki mekanisme pertahanan yang lebih baik ketika menghadapi tekanan penyakit.

Bagi Julsento, tanaman yang kuat menjadi bagian penting dari keberhasilan pengelolaan penyakit.

Lapisan ketiga adalah boost atau dukungan regenerasi dan nutrisi.

Setelah tekanan patogen dikendalikan dan mekanisme pertahanan tanaman diperkuat, tanaman membutuhkan dukungan nutrisi untuk membantu proses pemulihan.

Menurut Julsento, formulasi AUSSIE menggabungkan fungsi pengendalian jamur dengan aktivator sel dan nutrisi spesifik, termasuk unsur sulfur dan molibdenum.

“Jadi AUSSIE ini tidak sekadar fungisida, tetapi juga booster. Mulai dari eliminasi patogen, aktivasi imun, sampai regenerasi sel,” katanya.

Dalam pendekatan tersebut, akar mendapat perhatian khusus. Alasannya, Ganoderma memiliki keterkaitan erat dengan jaringan akar dan pangkal batang.

Ketika jaringan akar mengalami kerusakan, kemampuan tanaman dalam menyerap air dan nutrisi serta menjalankan fungsi fisiologisnya dapat ikut terganggu. Karena itu, pengendalian patogen tanpa diikuti pemulihan tanaman dinilai belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

Setelah tekanan patogen dikendalikan, tanaman perlu didukung untuk memulihkan jaringan yang terdampak.

Dari sinilah muncul perubahan ukuran keberhasilan pengendalian Ganoderma. Bukan hanya bertanya apakah patogennya berkurang, tetapi juga apakah tanaman mampu bertahan dan kembali tumbuh produktif.

“Jadi bukan hanya bagaimana kita membunuh Ganoderma, tetapi bagaimana tanaman bisa bertahan, pulih, dan kembali produktif,” ujarnya.

Replanting dapat menjadi momentum untuk membangun sistem pengelolaan kebun yang lebih sehat sejak awal. Sisa tunggul dan akar perlu dikelola, sumber inokulum ditekan, tindakan preventif diperkuat, dan kondisi tanaman dipersiapkan agar lebih mampu menghadapi tekanan patogen.

Pengendalian Ganoderma tidak berdiri sebagai satu tindakan tunggal. Sanitasi, pencegahan, pengendalian patogen, aktivasi pertahanan tanaman, pemulihan akar, dan pemenuhan nutrisi perlu ditempatkan dalam satu rangkaian strategi.

Artikel Terkait