Seperti kita ketahui, hama tikus saat ini masih merupakan hama utama pada perkebunan kelapa sawit. Keberadaannya sangat merugikan bagi pelaku usaha kelapa sawit. Hama tikus ini menyerang pada semua fase pertumbuhan sawit sejak mulai fase pembibitan sampai fase Tanaman Menghasilkan (TM). Pada fase Nursery, tikus memakan bagian yang lunak, seperti bagian akar atau bakal daun dari bibit sawit yang baru tumbuh, hingga kecambah mati. Selanjutnya pada tanaman kelapa sawit yang baru ditanam, hama tikus dapat menyebabkan kematian hingga 20 – 30 % (JCWE, 2021), dan kerusakan yang ditimbulkan adalah merusak dan memakan pelepah sampai titik tumbuh pada tanaman muda, bunga dan buah pada tanaman yang menghasilkan. Khusus fase TM,  serangan tikus bisa menurunkan produksi sampai 20% karena menyerang langsung pada buah sawit.  Dari data penelitian Eli Paska Siahaan, Staf BB2TP Medan, kemampuan seekor tikus dalam mengonsumsi buah sawit sebanyak 6-14 gram per hari atau setara sebesar 328-962 kilogram minyak sawit per hektar per tahun, dengan tingkat populasi 183-537 ekor per hektar.

Untuk pengendalian hama tikus dengan cepat di perkebunan kelapa sawit, pada umumnya dilakukan dengan menggunakan racun tikus (rodentisida). Beberapa rodentisida yang sudah dipakai  selama ini memerlukan pengawasan yang ketat terhadap peletakan umpan dan pengamatan terhadap umpan yang dimakan oleh tikus setiap minggu sampai tikus tidak memakan umpan dalam jumlah tertentu. Hal ini membutuhkan pemakaian rodentisida dalam jumlah banyak serta biaya kebutuhan tenaga kerja yang banyak pula. Terlebih lagi untuk perusahaan Kelapa Sawit yang sudah terdaftar di RSPO dan ISPO, pengendalian hama tikus harus sesuai dengan kaidah RSPO dan ISPO yang berkelanjutan yakni tidak menimbulkan dampak pencemaran lingkungan dan kecil sekali dampaknya terhadap musuh alami tikus yakni Burung Hantu (Tyto alba).

Rodentisida yang saat ini diproduksi dan dalam kurun waktu yang lama sudah digunakan oleh pengusaha Kelapa Sawit adalah rodentisida generasi 1 dan generasi 2, dimana cara kerjanya sebagai racun antikoagulan yaitu dengan cara menurunkan kemampuan darah tikus untuk membeku. Pembuluh darah pada tikus yang memakan umpan racun antikoagulan menjadi pecah dan darah tidak bisa membeku, sehingga hama tikus akan mengalami kematian karena pecahnya pembuluh darah ini. Dewasa ini beberapa kebun mengalami adanya masalah resistensi terhadap penggunaan rodentisida dari generasi 1 (J Andru, JF Cosson, J Caliman E Benoit, PudMed.gov 2012). Tikus yang memakan rodentisida dibawah lethal dose akan menghasilkan keturunan yang tahan terhadap rodentisida generasi 1 tersebut. Penambahan dosis pengumpanan per-hektar sudah tidak mampu mengendalikan hama tikus lagi. Akibatnya kebun mengalami kerugian berlipat yakni biaya yang dikeluarkan untuk pembelian rodentisida yang cukup tinggi serta kerusakan pada TBS yang sangat signifikan sehingga menurunkan produksi CPO per-hektar.

Menjawab permasalahan dan kebutuhan para pengusaha kelapa sawit, BASF melalui departemen riset dan pengembangan telah melakukan penelitian lebih dari 1 dekade,  berhasil menemukan inovasi rodentisida baru yakni Selontra® 0.075 RB yang sangat efektif untuk mengedalikan hama tikus dan mempunyai palatabilitas (daya ketertarikan) dimakan tikus sangat tinggi. Berbeda dengan rodentisida yang ada saat ini, Selontra® 0.075 RB ini merupakan rodentisida dengan bahan aktif baru yakni Cholecalciferol atau Vitamin D3 yang sangat rendah dampak terhadap lingkungan. Selontra® 0.075 RB memberikan cara kerja unik yang berbeda dari rodentisida generasi 1 maupun generasi 2, yakni menyebabkan terjadinya hypercalcimea (kelebihan Vitamin D dalam darah) yang menyebabkan hama tikus mengalami kematian dalam waktu yang relatif cepat .

Keuntungan menggunakan Selontra® 0.075 RB adalah teknologi speed baiting yakni sistem pengendalian yang cepat hanya dalam waktu 7 hari setelah tikus mengkonsumsi Selontra® 0.075 RB  dan hanya dibutuhkan 1 kali pengumpanan saja dengan 1 umpan per-pokok sawit. Hal ini terjadi karena Selontra® 0.075 RB  mempunyai efek stop feeding, yakni dalam waktu 1 x 24 jam Tikus akan mengalami kekurangan nafsu makan karena kelebihan Vitamin D3 dalam darahnya, Tikus akan mengalami pernafasan yang cepat dan dalam, jantung berhenti serta gagal ginjal dan hati, kemudian mengalami kelumpuhan dan akhirnya mati.

Dengan keuntungan ini, pelaku usaha kelapa sawit hanya memerlukan 1 kali pengumpanan Selontra® 0.075 RB. Jika kondisi serangan hama tikus yang sangat tinggi, kemungkinan bisa ditambahkan 1 kali aplikasi lagi, total 1-2 kali aplikasi. Sebagai pembanding, penggunaan rodentisida generasi 1 dan 2, membutuhkan paling sedikit 4 – 8 kali aplikasi untuk mendapatkan hasil pengendalian hama tikus yang efektif. Lamanya pengendalian hama tikus ini juga menyebabkan kerusakan pada TBS yang lebih banyak, sehingga kehilangan produksi CPO juga lebih banyak pula. Dengan menggunakan Selontra® 0.075 RB, pelaku usaha dan manajer kelapa sawit membutuhkan lebih sedikit rodentisida dan tenaga kerja dalam pengendalian hama tikus, sehingga akan menghemat waktu, biaya, kebutuhan tenaga kerja dan kehilangan hasil dari TBS maupun CPO.

Selain keuntungan di atas, Selontra® 0.075 RB juga mempunyai keunggulan dampak yang sangat kecil untuk hama non-target seperti Burung Hantu (Tyto alba) yang banyak dibudidayakan di kebun yang bersertifikasi RSPO ataupun ISPO sebagai predator atau musuh alami hama tikus, sehingga Selontra® 0.075 RB  sangat cocok atau sesuai dengan prinsip RSPO dan ISPO serta program Integrated Pest Management (IPM) yang menerapkan predator alami untuk mengendalikan hama tikus. Nah…. tunggu apalagi? Kalau Anda menginginkan rodentisida yang cocok dengan kelangsungan budidaya kelapa sawit kedepan, pengendalian cepat dan efektif, hemat kebutuhan rodentisida dan tenaga kerja, serta kecil sekali dampak terhadap lingkungan dan predator tikus (burung hantu), saatnya beralih ke Selontra® 0.075 RB sekarang juga!

(Murdianto, Marketing & Technical Manager P&SS BASF Distribution Indonesia)

Share.