• Jumat, 9 Oktober 2026
Berita Terbaru

Sawit Merah Bisa Cegah Stunting, UMKM Diminta Tangkap Peluang Pasar Premium

Serpong, SAWIT INDONESIA – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kelapa sawit dinilai memiliki peluang besar menembus pasar global, asalkan mampu memperkuat tata kelola dan menguasai teknologi pengolahan produk turunan sawit. Hal itu mengemuka dalam Talkshow Sesi I bertema “Peluang dan Tantangan Produk UKM Sawit” pada kegiatan Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit yang digelar di Serpong, Banten, Kamis (23 Oktober 2025).

Moderator acara Hamzirwan Hamid selaku Head of Editorial Collaboration Harian Kompas menegaskan bahwa UMKM telah menjadi bantalan ekonomi nasional sejak krisis moneter 1998, namun kini perlu bertransformasi agar dapat naik kelas dan bersaing di tingkat internasional.

“UMKM jangan hanya lokal, tapi harus bisa menembus pasar global. Contohnya Swiss yang tidak punya kakao, tapi bisa terkenal dengan cokelat karena tata kelolanya kuat dan mampu berinteraksi dengan pasar dunia,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Puspo Edi Giriwono, peneliti dari South-East Asia Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center IPB University, memaparkan bahwa kelapa sawit memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan dari hulu hingga hilir, termasuk oleh pelaku UMKM.

Menurutnya, berbeda dengan komoditas minyak bumi yang hanya bisa dikelola industri besar, sawit memiliki karakter egaliter karena dapat digarap oleh pelaku usaha kecil hingga korporasi besar.

“Kalau kita menguasai teknologinya, sawit bahkan bisa jadi bahan bakar roket. Sawit juga paling efisien secara lahan dibandingkan sumber minyak nabati lain,” kata Puspo.

Ia menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia sebesar 225–250 juta ton per tahun, sawit hanya memerlukan seperempat lahan dibandingkan kedelai atau bunga matahari. “Kalau pakai kedelai, setengah Amerika habis untuk tanam. Dengan sawit, cukup satu pulau besar di Indonesia,” ujarnya.

Terkait isu lingkungan, Puspo menilai tudingan deforestasi terhadap industri sawit seringkali tidak proporsional.

“Minyak sawit sudah punya sertifikasi RSPO dan ISPO. Minyak nabati lain justru baru mulai, padahal deforestasi terbesar justru dari kedelai di Brasil,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa sedikitnya 754 jenis bahan baku industri (ingredients) bisa dihasilkan dari minyak sawit, mulai dari tinta, deterjen, plastik, hingga bahan kosmetik dan makanan. Namun, ia menyoroti bahwa sebagian besar teknologi pengolahan tersebut masih dikuasai negara asing.

“Padahal, untuk menghasilkan minyak sawit merah—yang kaya vitamin A dan E serta berpotensi mencegah stunting—UMKM hanya butuh investasi sekitar Rp150 juta. Alatnya bisa dibeli online. Nilai jualnya tinggi, bahkan di luar negeri mencapai Rp800 ribu per liter,” paparnya.

Produk turunan sawit seperti red palm oil soap juga telah menjadi komoditas premium di Amerika Serikat dengan harga mencapai US per unit. Ironisnya, sebagian pembelinya justru datang dari Indonesia.

“Ini pekerjaan rumah kita: mengangkat citra dan mindset. Negara lain sudah menganggap sawit sebagai produk sehat, sementara kita sendiri belum memanfaatkannya maksimal,” tegas Puspo.

Puspo menutup paparannya dengan menekankan bahwa pengembangan UMKM sawit sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs). Selain berkontribusi pada ketahanan pangan global, sawit juga mendukung peningkatan kesejahteraan dan inovasi industri ramah lingkungan.

“Dengan edukasi, riset, dan pelatihan yang tepat, UMKM kita bisa menjadi motor penggerak hilirisasi sawit nasional,” katanya.

Artikel Terkait