• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Riset SBRC IPB: Biodiesel Sawit Lebih Bersih dan Hemat BBM

Bogor, SAWIT INDONESIA – Upaya meningkatkan kualitas biodiesel sawit kini tak lagi berhenti pada produksi bahan bakar alternatif. Peneliti di Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University mengembangkan bioaditif nabati yang diklaim mampu menjaga kebersihan sistem bahan bakar sekaligus memperpanjang usia mesin kendaraan berat. Inovasi tersebut diperlihatkan langsung kepada jurnalis dalam kunjungan laboratorium sebagai bagian dari pendalaman praktik riset biofuel di lapangan.

Kegiatan itu merupakan rangkaian Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 yang digelar Majalah Sawit Indonesia bersama dukungan BPDP, 5-6 Februari 2026.

Sekretaris SBRC sekaligus dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB, Dwi Setyaningsih, menjelaskan bahwa tantangan biodiesel di lapangan bukan hanya soal pasokan, melainkan stabilitas mutu selama penyimpanan dan distribusi. Kontaminan, air, dan deposit kerap memicu penyumbatan fuel pump serta filter bahan bakar.

Untuk itu, SBRC mengembangkan bioaditif berbasis minyak atsiri seperti cengkeh, sereh wangi, dan terpentin. Campuran alami ini membantu menekan pembentukan kotoran sekaligus meningkatkan pelumasan dan kualitas pembakaran.

“Hasil uji coba menunjukkan umur filter bisa meningkat hampir dua kali lipat. Konsumsi BBM lebih hemat sekitar 5–7 persen, emisi lebih bersih, dan performa mesin lebih stabil,” jelas Dwi di Kantor SBRC, Bogor, Jumat (6 Februari 2026).

Bioaditif tersebut telah diuji pada kapal, armada pengangkut BBM Pertamina, hingga bus operasional IPB. Produk ini juga telah dipatenkan dan mulai dikomersialkan melalui mitra industri.

SBRC memiliki fasilitas produksi biodiesel skala pilot di Gunung Putri, Jawa Barat, dengan kapasitas sekitar lima ton per hari. Fasilitas ini digunakan untuk menjembatani hasil laboratorium menuju kebutuhan industri.

“Di sana kami memproduksi metil ester sebagai bahan dasar biodiesel. Jadi memang ada plant khusus untuk produksi,” kata Dwi.

Dalam demonstrasi di laboratorium, peneliti memperlihatkan proses transesterifikasi: minyak sawit dipanaskan, direaksikan dengan metanol dan katalis, lalu dipisahkan menjadi biodiesel dan gliserol sebelum dimurnikan.

Selain pengembangan teknis, SBRC juga terlibat dalam kajian perhitungan emisi gas rumah kaca metode well-to-wheel bersama Kementerian ESDM. Kajian ini menghitung jejak karbon biodiesel sejak bahan baku hingga digunakan kendaraan.

Data tersebut akan menjadi dasar pengajuan agar biodiesel sawit diakui sebagai bahan bakar berkelanjutan oleh International Maritime Organization (IMO).

“Prosesnya memang panjang. Kita harus menyampaikan Life Cycle Analysis emisi karbon dan estimasi biayanya. Tapi ini penting agar biodiesel sawit mendapat pengakuan global,” ujar Dwi.

SBRC juga meneliti ekstraksi karoten dan vitamin E dari CPO sebelum diolah menjadi biodiesel serta memanfaatkan limbah glycerin pitch sebagai katalis green diesel.

“Prinsipnya kami ingin tidak ada limbah. Semua bisa dikonversi menjadi produk bernilai tambah,” tambahnya.

Pimpinan Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, mengatakan kunjungan ke fasilitas riset SBRC penting agar jurnalis tidak hanya memahami biodiesel dari sisi kebijakan dan paparan data, tetapi juga melihat langsung proses pengembangannya.

“Kami baru saja menyelenggarakan workshop mengenai program biodiesel sawit yang dihadiri Kementerian ESDM, Dewan Energi Nasional, dosen IPB, BRIN, BPDP, dan APROBI. Sekarang kami ingin melihat langsung riset-riset yang sudah dikembangkan di SBRC, khususnya soal biodiesel dan biofuel,” ujarnya.

Menurut Qayuum, program biodiesel di Indonesia telah berjalan hampir dua dekade dan perlu terus dikomunikasikan ke publik sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.

Artikel Terkait