Jakarta, SAWIT INDONESIA - Rumah Sawit Indonesia (RSI) mengungkap langkah strategis untuk mengatasi tantangan industri sawit nasional. Di antaranya dengan pertanian regeneratif agar produktivitas sawit meningkat hingga 7 ton per hektar per tahun.
Ketua Umum RSI Kacuk Sumarto menjelaskan pertanian regenerative (regenerative agriculture) adalah pendekatan holistik terhadap pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan tanah dan lingkungan alih-alih merusaknya.
"Rekayasa mengenai budidaya dan pengolahan ini bisa meningkatkan produksi kita tidak lagi hanya rata-rata 5 ton untuk perusahaan, petani 2 ton, tapi bisa kita tingkatkan sampai 6-7 ton semuanya," ucap Kacuk dalam konferensi pers usai Musyawarah Nasional (Munas) ke-1 RSI di Jakarta, Selasa (19/11/2024).
Kacuk mengatakan, metode pertanian regeneratif yakni memasukan biomassa dari sawit ke perkebunan kembali. Hal ini dilakukan dengan suatu proses penyempurnaan fermentasi atas biomassa tersebut.
"Percepatan dan perbanyak munculnya mikroba tanah sehingga punya efek signifikan terhadap kesuburan tanah,” kata Kacuk.
"Karena kunci keberhasilan produksi adalah kesuburan tanah yang tak selalu bisa terkejar oleh pupuk Kimia," imbuhnya.
Di samping pertanian regenerative ini, Kacuk menyebut RSI juga mendorong hilirisasi sektor pangan, serta peningkatan produktivitas melalui akselerasi peremajaan sawit rakyat atau PSR.
"Saat ini terdapat 2,8 juta hektare sawit rakyat yang berusia di atas 25 tahun untuk segera diremajakan. Ini menjadi salah satu momentum bagi PTPN dalam memperkuat ketahanan pangan melalui program Intercropping," jelasnya.
Pendekatan intercropping merupakan metode budidaya dua komoditas berbeda dalam satu area yang sama melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR). Ia menambahkan bahwa setiap tahun diperlukan akselerasi PSR hingga 400.000 hektare.
Kacuk menjelaskan bahwa berdasarkan analisis yang dilakukan oleh RSI, jika peremajaan kelapa sawit dilakukan secara berkelanjutan, terdapat potensi untuk menanam tanaman sela (intercropping) di lahan seluas satu juta hektar.
Hal ini akan sangat menguntungkan, terutama jika hasil panennya dapat dikonsumsi secara lokal, karena dapat mengurangi biaya logistik yang dikeluarkan.
Dalam Kongres Munas Pertama RSI, Kacuk Sumarto dari Paya Pinang Group terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum RSI periode 2024-2027. Selain Kacuk, Irwan Perangin Angin dari PTPN terpilih sebagai Ketua I.
Meski organisasi baru dalam industri sawit, RSI telah memiliki 1,72 juta ha luas kebun anggota dan ada 77 anggota yang terdiri dari perusahaan kebun sawit, produsen pupuk, industri hilir sawit, dan koperasi petani sawit. “Kami akan kawal program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) secara besar-besaran, terutama untuk kebun para petani mitra perusahaan anggota RSI,” kata Kacuk.














