Proses sterilisasi menggunakan uap basah dalam pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) sawit menjadi CPO dinilai sudah tidak tepat. Sudah ada teknologi pabrik sawit tanpa uap yang membawa banyak manfaat.

Teknologi pabrik sawit yang telah berumur ratusan tahun dinilai sudah usang salah satunya penggunaan uap dalam proses sterilisasi untuk pengolahan buah sawit menjadi minyak sawit mentah (CPO).  Saat ini, proses sterilisasi dengan uap basah (Steam) tidak perlu digunakan karena memberikan dampak negatif kepada minyak sawit sebagai bahan baku makanan.

Sahat Sinaga, Plt. Ketua Umum Dewan Sawit Indonesia, menjelaskan awal mula penggunaan sterilisasi di pabrik sawit yang telah dimulai semenjak 1922 sampai 2022 kurang lebih 100 tahun untuk melunakkan daging buah sawit (mesocarp). Berbeda dengan di Afrika, negara yang menjadi asal tanaman sawit, menggunakan “Stew Process” dengan bejana terbuka.

“Tetapi di Afrika, tidak digunakan proses sterilisasi melainkan digodok,” ujar Sahat saat menjadi pembicara Webinar Inovasi Sawit Dalam Industri Pangan, akhir Mei 2022 yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dalam presentasinya dijelaskan Sahat bahwa di Afrika periode tersebut teknologi yang dipakai untuk mendapatkan minyak sawit dari buahnya umumnya dengan cara manual. Caranya adalah  memipil buah sawit matang dari TBS sawit, merebus buah sawit tersebut untuk melunakkan sel dinding buah ( mesocarp), menumbuk buah itu secara perlahan agar mesocarp terlepas dari inti sawitnya selanjutnya memeras mesocarp dengan cara mekanis, dan  minyak yang keluar  disaring   minyak sawit dan serat-serat terpisah.

“Memang tujuan proses sterilisasi biasanya dilakukan untuk membunuh kuman-kuman/bakteri atau mikro organisme lainnya  yang bisa menjadi suatu penyebab penyakit menular,” jelas lulusan ITB ini.

Proses sterilisasi ini ditujukan membunuh kuman/bakteri atau mikro organisme lainnya yang bisa menjadi penyebab penyakit menular. Pada abad 19, negara Eropa berupaya mencegah pandemi penyakit akibat bakteri, jamur dan virus, dan oleh karena itu semua bahan makanan yang berasal dari daerah Tropis ( termasuk Afrika Barat untuk Sawit ) harus diproses dengan pola “Sterilisasi”.

Di  abad ke 19 adalah puncak perdagangan minyak sawit antara Britain dan Afrika Barat . Bisnis ini  banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan Ingris. Minyak Sawit menjadi pusat perdagangan yang pesat antara Britain dan Afrika Barat sebagai sumber utama sawit ke pasar Eropa. Selain Industri Sabun (Sunlight ) pengguna  minyak sawit  yang  maju pesat  di Eropah ( makanya nama pelabu-han Liverpool itu disebut juga “Port-Sunlight”,  minyak sawit juga banyak  dipakai pengganti  “lemak binatang ” , dan  industi margarin berbasis minyak sawit juga berkembang  pesat di Belanda oleh Van den Bergh Fabrieken.

Teknologi  sterilisasi dalam pengolahan buah sawit menjadi CPO diaplikasikan seiring munculnya pandemi di Eropa pada abad 19. Untuk pencegahan bakteri, jamur dan virus, dan semua bahan makanan yang berasal dari daerah Tropis ( termasuk Afrika Barat untuk Sawit ) harus diproses dengan pola Steri-lisasi“.

“Ketika pabrik sawit pertama didirikan tahun 1922 di Tanah Itam Ulu  dengan teknologi “STORK” , maka semua TBS yang akan diolah menjadi minyak sawit , harus diproses secara “Sterilisasi“. Tidak  mengikuti pola “Stew” yang berjalan  di Afrika Barat karena teknologi rebus ini kurang  meyakinkan bagi orang Eropa  untuk dapat memberantas bakteri/mikro organisme  penyakit menular,” urai Sahat dalam presentasinya.

Teknologi sterilisasi awalnya menggunakan proses batch dengan steam bertekanan. Tetapi ini kurang efisien karena menggunakan lori dan puncak tekanan  antara 1-3 bar. Adapula menggunakan sterilisasi model oblique lalu model vertical.

“Saat bertemu orang Afrika, mereka bilang minyak kita tidak ada tekstur. Sedangkan orang Belanda harus ada deodorize,” kata Sahat.

Teknologi yang dipakai untuk mengolah CPO menjadi bahan makanan ada 2. Pertama, proses kimiawi bertujuan menghilangkan warna minyak sawit yang merah, getah buah sawit, metals sebagai pro-oxydatif , kandungan Asam Lemak Bebas,  dan bebauan yang ada di buah sawit.Teknologi ini  diterapkan seluruh industri pemurnian sawit sampai dengan tahun 1974. Caranya dengan melakukan proses de-acidifikasi dan minimize impurities  dengan   citric acid , bleaching earth  dan caustic soda  dan dilanjutkan proses penghilangkan bau (deodorisasi).

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 128)

Share.