• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

PTPN IV Regional III Andalkan Tata Kelola Berbasis Data untuk Perkuat Produksi Sawit

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Deretan kelapa sawit di kebun-kebun PTPN IV Regional III kini tidak lagi dikelola semata-mata berdasarkan pengalaman lapangan. Dalam dua tahun terakhir, entitas ini memperkuat tata kelola on-farm berbasis data melalui penerapan trossen telling atau perhitungan bunga buah sebagai fondasi utama estimasi produksi. Sepanjang 2025, metode tersebut menjadi instrumen kunci dalam mengawal perencanaan hingga realisasi produksi tandan buah segar (TBS).

Dari total produksi 1,6 juta ton TBS, tingkat akurasi perhitungan bunga buah tercatat mencapai 96,77 persen. Tak hanya itu, jika dibandingkan dengan prognosa pada tahun yang sama, realisasi produksi bahkan menyentuh 100,46 persen dengan deviasi hanya 0,46 persen.

Angka ini menunjukkan selisih yang sangat tipis antara estimasi dan capaian riil di lapangan. Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, menegaskan bahwa capaian tersebut lahir dari konsistensi membangun budaya kerja berbasis presisi.

“Di PTPN IV Regional III, kami memastikan bahwa produksi tidak berjalan berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan data yang terukur. Sepanjang 2025, akurasi trossen telling kami mencapai 96,77 persen. Bahkan realisasi terhadap prognosa menyentuh 100,46 persen dengan deviasi hanya 0,46 persen. Ini menunjukkan validitas data yang kami bangun benar-benar presisi,” kata dia dalam keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Selasa (24/2/2026).

Menurut Bambang, trossen telling bukan sekadar metode penghitungan bunga buah, melainkan parameter utama dalam memproyeksikan produksi TBS selama satu tahun penuh. Data tersebut menjadi dasar dalam menyusun kebutuhan operasional dari hulu hingga hilir, mencakup tenaga kerja, material, transportasi, hingga aspek pendukung lainnya atau labor, material, transport, and others (LMTO).

“Dengan forecast yang akurat, kami dapat menghindari kehilangan momentum saat panen puncak terjadi. Tidak ada keterlambatan tenaga, tidak ada kekurangan armada, dan tidak ada keputusan yang diambil tanpa dasar,” katanya.

Secara teknis, evaluasi akurasi dilakukan dalam dua periode, yakni Semester I dan Semester II 2025. Pembobotan disesuaikan dengan kontribusi masing-masing kebun terhadap target RKAP. Tiga indikator utama menjadi dasar penghitungan, yaitu jumlah tandan dengan bobot 80 persen, berat tandan rata-rata (BTR) sebesar 10 persen, serta volume TBS sebesar 10 persen. Data realisasi produksi diambil dari sistem SAP berdasarkan jumlah tandan dan volume TBS yang diterima di pabrik kelapa sawit.

Pengukuran akurasi dilakukan menggunakan metode deviasi absolut antara hasil estimasi dan realisasi produksi, dengan standar terbaik berada pada deviasi 0 persen. Sepanjang 2025, manajemen menetapkan tiga kebun dan 12 afdeling dengan tingkat akurasi terbaik. Sementara unit dengan deviasi absolut di atas 10 persen menjadi perhatian khusus untuk dilakukan perbaikan metode pada 2026.

Bambang menambahkan, capaian tersebut selaras dengan arahan Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, yang menekankan pentingnya validitas data, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), serta integritas di setiap lini operasional.

“Arahan beliau tentang validitas data, kepatuhan pada SOP, dan integritas seluruhnya tercermin dalam capaian ini. Inilah transformasi yang kami jalankan, presisi sebagai budaya kerja, data sebagai fondasi keputusan, dan produksi yang dikelola secara terukur, akuntabel, serta berkelanjutan,” ujarnya.

Di tengah tantangan fluktuasi produksi dan tuntutan efisiensi, pendekatan berbasis data ini menjadi strategi utama dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengendalikan potensi deviasi perencanaan. Dengan akurasi mendekati 97 persen dan deviasi yang nyaris nol terhadap prognosa, PTPN IV Regional III menegaskan transformasi tata kelola on-farm yang semakin solid, menempatkan data sebagai kompas utama dalam mengelola hamparan sawit di Bumi Lancang Kuning.

Sumber: kabarbumn.com

Artikel Terkait