• Jumat, 9 Oktober 2026
Berita Terbaru

Produksi Sawit RI Tembus 30,28 Juta Ton hingga Juni 2026

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Produksi minyak sawit Indonesia meningkat pada Juni 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, kenaikan konsumsi domestik dan ekspor yang lebih tinggi membuat persediaan minyak sawit nasional mengalami penurunan.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang dirilis Rabu (26 Agustus), produksi crude palm oil (CPO) pada Juni 2026 mencapai 4,823 juta ton, naik 8,59% dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 4,165 juta ton. Sementara itu, produksi palm kernel oil (PKO) meningkat menjadi 449.000 ton dari 387.000 ton.

Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Juni 2026 mencapai 5,277 juta ton, naik 8,59% dibandingkan Mei yang sebesar 4,552 juta ton.

Secara kumulatif, produksi CPO dan PKO sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 30,284 juta ton. Angka tersebut meningkat 15,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 27,889 juta ton.

Di tengah kenaikan produksi, konsumsi domestik juga terus meningkat. Total konsumsi dalam negeri pada Juni 2026 mencapai 2,201 juta ton, naik 5,92% dibandingkan Mei yang sebesar 2,078 juta ton.

Kenaikan konsumsi terutama berasal dari sektor biodiesel. Konsumsi untuk biodiesel pada Juni mencapai 1,131 juta ton, meningkat dari 1,035 juta ton pada bulan sebelumnya.

Konsumsi untuk sektor pangan juga meningkat menjadi 878.000 ton dari 856.000 ton. Sementara konsumsi untuk industri oleokimia naik menjadi 192.000 ton dari 187.000 ton.

Secara kumulatif Januari-Juni 2026, konsumsi domestik mencapai 12,994 juta ton, tumbuh 5,48% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 12,272 juta ton.

Ekspor Sawit Melonjak

Tekanan terhadap stok semakin besar karena ekspor produk sawit melonjak pada Juni 2026.

Total ekspor produk sawit mencapai 3,275 juta ton pada Juni 2026, melonjak 64,08% dibandingkan Mei yang sebesar 1,996 juta ton.

Kenaikan ekspor terjadi pada sejumlah produk utama. Ekspor olahan minyak sawit mencapai 2,357 juta ton, naik 66% dari 1,423 juta ton pada Mei.

Ekspor CPO bahkan melonjak hampir sepuluh kali lipat menjadi 335.000 ton dari hanya 31.000 ton pada bulan sebelumnya atau tumbuh 980%.

Sementara itu, ekspor olahan minyak inti sawit meningkat 110% menjadi 116.000 ton dari sebelumnya 55.000 ton.

Meski terjadi lonjakan bulanan, secara kumulatif ekspor produk sawit sepanjang Januari-Juni 2026 masih mencatat pertumbuhan moderat. Total ekspor mencapai 16,595 juta ton, naik 5,79% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 15,686 juta ton.

Dari sisi nilai, ekspor produk sawit pada Juni 2026 mencapai US,92 miliar, naik 57,45% dibandingkan Mei yang sebesar US,49 miliar.

Lonjakan nilai ekspor tersebut terutama ditopang oleh peningkatan volume ekspor. Pasalnya, harga rata-rata ekspor CPO pada Juni justru turun menjadi US.174 per ton dari US.227 per ton pada Mei atau turun 4,32%.

Penurunan harga tersebut sejalan dengan pergerakan harga di Malaysia Derivatives Exchange (MDEX), yang turun dari US.134 per ton pada Mei menjadi US.107 per ton pada Juni.

Namun secara kumulatif, kinerja ekspor masih positif. Nilai ekspor produk sawit sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US,45 miliar, naik 12,57% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US,277 miliar.

Rata-rata harga ekspor CPO selama Januari-Juni 2026 tercatat US.132 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode yang sama tahun lalu sebesar US.088 per ton.

India dan China Jadi Pendorong Ekspor

Kenaikan ekspor pada Juni terutama didorong oleh peningkatan pengiriman ke sejumlah negara tujuan utama.

Ekspor ke India mencapai 328.000 ton, melonjak 396% dibandingkan Mei. Pengiriman ke China mencapai 256.000 ton atau naik 67%, sedangkan ekspor ke Pakistan mencapai 132.000 ton atau meningkat 88%.

Kenaikan juga terjadi pada ekspor ke Malaysia sebesar 129.000 ton atau naik 149%, Afrika 114.000 ton atau naik 45%, Bangladesh 98.000 ton atau naik 133%, serta Amerika Serikat sebesar 85.000 ton atau naik 64%.

Sebaliknya, ekspor ke Rusia turun 20% menjadi 25.000 ton, sedangkan ekspor ke Uni Eropa (EU-27) turun 2% menjadi 4.000 ton.

Jika dilihat secara kumulatif Januari-Juni 2026, China menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan ekspor terbesar. Ekspor ke China meningkat 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan juga terjadi pada ekspor ke Malaysia sebesar 13%, Rusia 7%, Afrika 4%, dan Bangladesh 4%.

Namun, ekspor ke sejumlah pasar utama justru mengalami penurunan. Pengiriman ke Amerika Serikat turun 8%, India 7%, Pakistan 7%, dan EU-27 sebesar 1%.

Kenaikan produksi belum mampu sepenuhnya mengimbangi derasnya konsumsi domestik dan ekspor pada periode berjalan.

Dengan stok awal tahun sebesar 2,068 juta ton, produksi Januari-Juni 2026 sebesar 30,284 juta ton, konsumsi domestik 12,994 juta ton, ekspor 16,595 juta ton, serta impor 32.000 ton, maka stok akhir Juni 2026 tercatat 2,844 juta ton.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun produksi sawit nasional tumbuh kuat secara tahunan, peningkatan penyerapan untuk kebutuhan dalam negeri—terutama biodiesel—bersamaan dengan lonjakan ekspor membuat ruang persediaan tetap perlu diperhatikan.

Secara keseluruhan, kinerja industri sawit pada paruh pertama 2026 masih menunjukkan tren positif, dengan produksi, konsumsi domestik, volume ekspor, dan nilai ekspor seluruhnya mencatat pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Artikel Terkait