• Sabtu, 3 Oktober 2026
Hot Issue

Produksi Sawit Malaysia Ikut Terdampak El Nino

SAWIT INDONESIA - Industri sawit Malaysia mulai khawatir terhadap dampak El Nino. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) merevisi estimasi produksi sawit Malaysia yang diperkirakan turun menjadi 19,7 juta metrik ton periode 2026/2027.

Tak sampai tiga bulan, laporan USDA berjudul Malaysia - Oilseeds and Products Update kembali direvisi akibat dampak super El Niño. Kalau sebelumnya, USDA optimis produksi sawit Malaysia sebesar 19,85 juta metrik ton di periode 2026/2027.

Namun, proyeksi tersebut diubah menjadi lebih rendah 19,7 juta metrik ton. Dalam Laporan terbaru USDA per 1 Juli 2026, turunnya estimasi produksi akibat dari cuaca kering yang berlangsung mulai Juni 2026 hingga memasuki awal 2027.

USDA menjelaskan bahwa kekeringan sangat menekan kuantitas maupun kualitas Tandan Buah Segar (TBS) sawit. Efek kekeringan baru dapat dirasakan beberapa bulan setelah mengalami efek moisture stress (stres kekurangan air), dampak penurunan produksi diprediksi baru terlihat secara signifikan pada kuartal ketiga dan keempat 2026/27.

Pada 18 Agustus 2026, Direktur Jenderal Departemen Meteorologi Malaysia, Dr. Mohd Hisham Mohd Anip, mengonfirmasi kepada Bernama bahwa peluang El Niño mencapai kategori 'sangat kuat' atau 'Super El Niño' antara Oktober hingga Desember telah meningkat hingga lebih dari 90 persen.

Namun, pelaku industri sawit Malaysia tetap optimis menghadapi kondisi kekeringan ini. Chief Executive Officer Malaysian Palm Oil Council (MPOC), Belvinder Sron berharap produksi sawit Malaysia tidak akan anjlok signifikan. Optimismes ini timbul seiring dengan potensi musim hujan yang diprediksi datang pada Desember 2026. Mereka berharap musim hujan ini dapat meredam dampak Super El Niño terhadap produksi kelapa sawit Malaysia.

"Super El Niño sebelumnya terjadi pada 2015, dan produksi minyak sawit Malaysia turun 13 persen atau 2,6 juta ton pada tahun berikutnya. Pada 2026, kondisi cuaca kering berkembang relatif terlambat dibandingkan tahun 2015," ujar Belvinder seperti dikutip dari Bernama.

Oleh karena itu, curah hujan antara September hingga November akan menjadi faktor krusial dalam menentukan tingkat keparahan kondisi kering serta sejauh mana dampak El Niño mempengaruhi produksi sawit Malaysia pada 2027.

Ia menambahkan bahwa dampak El Niño di Asia Tenggara sepanjang 2026 tidak merata. Di Indonesia, kondisi cuaca memburuk dan cenderung lebih kering sejak akhir Juni, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Sementara itu, Malaysia belum mengalami kekeringan kritis, meskipun suhu udara terus meningkat.

"Namun, risiko terbesar muncul dari kekeringan berkepanjangan yang berlangsung lebih dari tiga bulan berturut-turut. Curah hujan yang rendah, suhu tinggi, dan penurunan kelembapan tanah dapat memicu stres pada pohon sawit, yang pada akhirnya menurunkan produksi TBS dan hasil rendemen minyak setelah jeda waktu 9 hingga 12 bulan," kata Belvinder.

Di tengah gejolak berkurangnya produksi, harga CPO berpeluang meningkat sebagai kompensasi kondisi tersebut. Belvinder mengungkapkan bahwa kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives telah melonjak di atas RM4.900 per ton pada pertengahan Agustus. Sementara itu, kontrak berjangka untuk tahun 2027 diperdagangkan di atas RM5.000 per ton, mencerminkan kekhawatiran pasar atas potensi dampak El Niño.

Faktor pendorong kenaikan harga ini juga dipengaruhi faktor lainnya di luar El Niño. Faktor tersebut yaitu ketegangan geopolitik yang masih terjadi di kawasan Laut Merah.

"Gangguan pelayaran di Laut Merah serta penurunan lalu lintas di Selat Hormuz menjaga harga minyak mentah dunia tetap tinggi di atas US per barel. Momentum pasokan ini, yang terjadi menjelang musim rekos stok untuk perayaan Diwali di India, memberikan dukungan tambahan bagi pasar minyak nabati, termasuk minyak sawit," terangnya.

Selain itu, ia mencatat bahwa permintaan minyak sawit Indonesia untuk pencampuran biodiesel B50 berpotensi semakin kuat seiring berakhirnya masa transisi tiga bulan untuk menghabiskan sisa stok B40 pada September.

"Situasi inilah yang berpeluang meningkatkan harga CPO di atas RM4.600 per ton pada September, dengan peluang bertahan di atas level tersebut hingga akhir tahun," pungkasnya.

Artikel Terkait