Berita Terbaru
SISKA BERKELANJUTAN: Pakan Ternak Sapi Siap Saji (PAT3S) Berbasis Empelur “Biomas” Batang Kelapa Sawit Sisa Tebangan Program Peremajaan
Memasuki periode peremajaan kelapa sawit merupakan masa-masa penuh tantangan bagi para pelaku integrasi sapi sawit (ISS) atau yang lebih dikenal dengan SISKA (Sistem Integrasi Ternak Sapi dan Kelapa Sawit). Rumah tangga SISKA tidak hanya akan kehilangan sumber pendapatan utama akibat berhentinya produksi TBS tetapi juga akan kehilangan sumber pasokan hijauan pakan ternak antar tanaman kelapa sawit.
Perubahan ekosistem areal perkebunan kelapa sawit yang biasa digunakan untuk pengembalaan dan/atau pengumpulan hijauan (meramban) sebagai konsekuensi dari proses peremajaan. Peremajaan berarti tanaman kelapa sawit kembali pada kelompok tanaman muda atau belum menghasilkan (TBM) sehingga pengembalaan ternak jika tetap dilakukan akan menyebabkan kerusakan sehingga upaya peningkatan produktivitas tanaman perkebunan kelapa sawit tidak akan optimal. Pada kawasan perkebunan kelapa sawit rakyat bahkan dapat menjadi salah satu sumber konflik sosial dalam masyarakat (antara pemilik lahan perkebunan dan pemilik ternak sapi). Kegiatan meramban (cut and curry) untuk pemenuhan kebutuhan pakan ternak sapi juga akan terganggu karena perubahan dominasi tanaman yang tidak lagi berupa hijauan pakan ternak, meskipun dilakukan penanaman leguminosa antar tanaman kelapa sawit tetapi tidak dapat dipanen secara leluasa oleh para peternak sapi. Secara umum dapat dinyatakan bahwa program peremajaan kelapa sawit dapat menjadi ancaman potensial dalam menjaga keberlanjutan SISKA.
Salah satu alternatif untuk menjaga keberlanjutan SISKA adalah memanfaatkan berbagai biomas yang tersedia disekitar kawasan antara lain empelur batang kelapa sawit sisa tebangan program peremajaan. Batang merupakan bagian utama (70%) dari pohon kelapa sawit dengan bagian luar potensial digunakan untuk pembuatan kayu lapis, sedangkan bagian dalam tidak cukup kuat digunakan sebagai kayu dibuang dalam jumlah besar (Prianda, 2009). Zat yang dapat diekstraksi dari batang memiliki kandungan gula yang besar dan sebanding dengan gula tebu. Bagian dalam yang memiliki nilai ekonomi rendah dan menimbulkan masalah besar berupa limbah sehingga sangat penting adanya upaya meningkatkan pemanfaatan empelur batang kelapa sawit. Hasil analisis laboratorium menunjukkan kandungan nutrisi empelur batang sawit segar yaitu Air 25,17%, BK 74,83%, Abu 1,83%, SK 38,26%, LK 0,34%, PK 2,48%, ADF 66,45%, NDF 74,33%, Hemisellulosa 7,88%, Sellulosa 46,93%, Lignin 18,27%. Rata-rata berat kering kayu kelapa sawit 394,11 kg/pohon atau setara dengan berat kering 50,45 ton/ha dengan kandungan karbon biomassa mencapai 223,68 kg C/pohon atau setara 28,63 ton C/ha (equivalen dengan karbondioksida sebesar 104,97 ton CO2/ha) (Siswoko et al, 2017).
Hasil estimasi tim peneliti Fakultas Peternakan Universitas Jambi menunjukkan bahwa setiap batang sawit yang sudah memasuki umur peremajaan berdiameter 50 cm dan panjang 10 meter menghasilkan sekitar 600 kg bahan pakan untuk ternak atau setiap hektar mampu menghasilkan sekitar 81.600 kg atau 81,60 ton (asumsi jumlah pohon 136 batang/Ha). Hasil perajangan yang berbentuk mirip dengan serbuk gergaji dan berwarna putih yang selanjutnya disebut serbuk empelur sawit merupakan biomas bahan pakan ternak yang sangat besar termasuk peluang untuk komersialisasi. Hasil analisis proximat kandungan nutrisi empelur tanpa pengolahan dibanding dengan rumput unggul yang dibudidayakan peternak pelaku integrasi disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Empelur Sawit Program PSR dan Rumput Unggul Budidaya Peternak Pelaku SISKA Desa Purwodadi
No
Unsur
Empelur Sawit
Rumput
Mexico
Zanzibar
1
Bahan Kering
7.44
7.21
8.61
2
Abu
1.34
6.06
12.44
3
Lemak Kasar
1.51
2.48
4.78
4
Protein Kasar
3.95
8.34
13.14
5
Serat Kasar
11.20
29.92
24.47
6
ADF
16,65
36.12
34.93
7
NDF
67.86
77.73
77.79
Sumber: Hasil analisis laboratoriun Fakultas Peternakan Unja (2022)
Empelur batang kelapa sawit adalah limbah biomassa berlignin, selulosa dan hemiselulosa yang memiliki potensi besar dengan kelimpahan cukup tinggi akan tetapi pemanfaatan dari batang kelapa sawit masih terbatas serta kurang diperhatikan masyarakat. Kandungan serat dan lignin yang tinggi menjadi suatu kelemahan untuk dijadikan bahan pakan ternak ruminansia karena berdasarkan bentuk fisik, lignin merupakan senyawa heterogen yang memiliki berbagai tipe ikatan dan sulit diurai oleh enzim yang dihasilkan mikroba rumen (Hofrichter,2002). Berbasis potensi dan kendala dalam pemanfaatan biomas empelur batang sawit program PSR untuk keberlanjutan SISKA seperti disajikan pada Gambar 1.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 129)






