• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Prioritaskan B30, Pengusaha Pilih Tidak Ekspor Biodiesel

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) memproyeksikan tahun ini tidak ada lagi ekspor biodiesel seperti tahun lalu. Pasalnya, kapasitas produksi biodiesel sudah terserap untuk program biodiesel campuran 30% Atau B30. "Tahun ini, produsen biodiesel tidak lagi ekspor. Kami berkomitmen mendukung B30," kata Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI. Tantangan ekspor biodiesel semakin berat. Otoritas Eropa menerapkan bea masuk biodiesel sekira 8-18 persen karena dugaan praktik subsidi. Paulus mengatakan bea masuk ini semakin mempersulit masuknya biodiesel ke Eropa. Paulus menuturkan memang Indonesia punya kapasitas produksi biodiesel yang sebesar 12 juta KL. Tetapi di lapangan, produksi riil sekitar 10 juta ton atau 85 persen dari kapasitas terpasang . "Oleh karena itu, ekspor tidak bisa dilakukan pada awal tahun ini. Kendati sudah banyak permintaan dari negara lain seperti Tiongkok dan Asia Timur," ujar Paulus. Ia memperkirakan ekspor baru dapat dilakukan setelah kuartal pertama atau kedua. Itupun menunggu selesainya penambahan lini produksi yang baru dari sejumlah produsen. Pada 2020, pemerintah telah menetapkan alokasi serapan FAME atau Fatty Acid Methyl Ester sebanyak 9,59 juta kiloliter (KL). Penetapan alokasi diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 199K/20/MEM/2019 tentang Penetapan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel serta Alokasi Besaran Volume untuk Pencampuran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode Januari-Desember 2020.

Artikel Terkait