Bali, SAWIT INDONESIA - Peta persaingan dan tata kelola biofuel berbasis minyak sawit dunia makin terpolarisasi. Di saat Indonesia mengalokasikan sepertiga produksi CPO nasionalnya untuk mengejar target B50, Malaysia memilih memperkuat efisiensi R&D dan sertifikasi ketertelusuran (traceability), sementara kawasan Afrika mulai melirik Indonesia sebagai acuan pengembangan industri energi hijau mandiri.
Dinamika tersebut mengemuka dalam 6th Palm Biodiesel Conference yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) di Nusa Dua, Bali.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono memaparkan bahwa posisi Indonesia saat ini sangat dominan dalam penyerapan domestik. Dengan skenario B50, Indonesia bakal menyerap sekitar sepertiga dari total produksi CPO nasional untuk kebutuhan energi. Angka ini jauh melampaui porsi penyerapan domestik negara produsen lain seperti Malaysia (~7%) maupun Thailand (~40%).
Namun, akselerasi B50 Indonesia dihadapkan pada persimpangan jalan antara pasokan domestik dan keterikatan pasar ekspor. Pada 2027, konsumsi biodiesel nasional diproyeksikan melonjak menjadi 17,4 juta ton, bertepatan dengan penurunan produksi akibat El Niño menjadi 56,64 juta ton. Kondisi ini diperkirakan memangkas volume ekspor hingga 5 juta ton.
"Penerapan penuh B50 pada 2027 akan menurunkan ekspor secara dalam, yang berpotensi mengurangi penerimaan negara dari pajak dan pungutan ekspor," ujar Eddy dalam diskusi bertajuk “Indonesian Palm Industry Readiness for B50 Mandate: Feedstock Capacity, Challenges, and Outlook”, Jumat (18 September 2026).
Oleh karena itu, GAPKI mendorong pergeseran strategi nasional menuju intensifikasi produktivitas melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pemanfaatan benih unggul, serta penerapan pertanian digital tanpa perluasan lahan (produce more with less).
Strategi Malaysia dan Kemitraan Afrika
Di sisi lain, Malaysia memilih fokus pada penguatan efisiensi lahan dan kredibilitas keberlanjutan guna menembus pasar global. Group Leader MPOB Dr. Harrison Lau Lik Nang menjelaskan bahwa tanaman sawit menyumbang 30% kebutuhan minyak nabati dunia hanya dari 7,8% total lahan minyak nabati global. Untuk menghasilkan 1 ton minyak, sawit hanya butuh 0,26 hektare, jauh lebih hemat dibanding kedelai yang memerlukan hingga 2 hektare.
Malaysia memperkuat daya saingnya di tengah ketatnya regulasi Uni Eropa dan AS melalui sertifikasi MSPO 2.0, platform digital SIMS, serta GeoSAWIT untuk menjamin ketertelusuran rantai pasok hingga ke tingkat tapak.
Sementara itu, pasar Afrika menunjukkan optimisme baru terhadap pola integrasi industri yang diterapkan Indonesia. Presiden NPPAN Nigeria Amb. Alphonsus Inyang menyoroti bahwa Afrika memiliki potensi lahan dan petani yang melimpah, tetapi belum memiliki sistem industri biofuel yang komersial.
"Afrika tidak kekurangan sawit atau kebutuhan energi, yang belum ada adalah sistem terpadu. Afrika tidak butuh amal, Afrika butuh kemitraan," tegas Inyang, sembari menempatkan Indonesia sebagai model pembelajaran praktis bagi pengembangan biodiesel di Benua Hitam.






