Makassar, SAWIT INDONESIA – Metode pembelajaran yang diterapkan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dalam Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) mendapat apresiasi dari peserta asal Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Materi yang disampaikan secara sistematis dan komunikatif dinilai mampu mengubah anggapan bahwa ISPO merupakan hal yang rumit menjadi lebih mudah dipahami dan siap diterapkan di tingkat kebun.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diselenggarakan oleh AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian.
Salah seorang peserta dari Kabupaten Luwu Utara, Jumhari mengaku pada awal mengikuti pelatihan sempat menganggap penerapan ISPO sangat kompleks karena berkaitan dengan banyak dokumen, data, dan persyaratan teknis. Namun pandangan tersebut berubah setelah mengikuti pembelajaran selama enam hari bersama para instruktur AKPY.
"Awalnya saya berpikir ISPO itu rumit karena penuh data dan berbagai perlakuan di kebun. Bahkan saya sempat menelepon istri dan mengatakan bahwa ISPO ini sulit. Tetapi setelah mengikuti penjelasan dari para instruktur, terutama Pak Juremi, ternyata semuanya bisa dipahami. Cara penyampaiannya sederhana, mudah diikuti, bahkan kami juga diarahkan memanfaatkan berbagai referensi untuk memperdalam materi," ujarnya.
Menurutnya, kualitas para instruktur AKPY terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan kebutuhan industri sawit berkelanjutan. Hal tersebut membuat peserta lebih mudah memahami setiap materi, mulai dari prinsip-prinsip ISPO hingga implementasinya di lapangan.
"Kami melihat para instruktur semakin berkembang. Ilmu yang diberikan juga mengikuti perkembangan teknologi. Materi yang tadinya kami anggap sulit menjadi lebih mudah dipahami. Sekarang kami jadi tahu apa itu ISPO dan bagaimana menerapkannya dalam pengelolaan kebun sawit," katanya.
Ia menambahkan, ilmu yang diperoleh selama pelatihan akan menjadi bekal penting untuk meningkatkan tata kelola kebun sesuai prinsip keberlanjutan. Para peserta berkomitmen mengimplementasikan materi yang diperoleh setelah kembali ke daerah masing-masing.
"Yang sebelumnya kami tidak tahu tentang ISPO, sekarang sudah lebih paham. Selanjutnya tentu akan kami implementasikan dalam pengelolaan kebun sawit agar sesuai dengan standar yang telah diajarkan," ungkapnya.
Selain mengapresiasi para instruktur, peserta juga menyampaikan terima kasih kepada BPDP, Ditjen Perkebunan, serta AKPY yang telah menyelenggarakan pelatihan tersebut. Menurutnya, program peningkatan kapasitas seperti ini sangat dibutuhkan oleh petani karena membuka wawasan mengenai praktik perkebunan sawit yang baik, legal, dan berkelanjutan.
Ia berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan mengingat masih banyak aspek pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang perlu dipelajari oleh pekebun.
"Enam hari mengikuti pelatihan rasanya masih kurang. Ternyata dunia sawit sangat luas dan tantangannya juga banyak. Mudah-mudahan program seperti ini terus berlanjut sehingga semakin banyak petani yang memahami pengelolaan sawit berkelanjutan dan mampu menerapkannya di kebun masing-masing," tutupnya.














