Nanga Bulik, SAWIT INDONESIA – Akademisi Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah Yulio Kristian Tinduh menyatakan, pengendalian hama dan pernyakit secara terpadu merupakan faktor kunci dalam peningkatan produktivitas tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
“pengendalian hama dan pernyakit harus dilakukan secara tepat dan terpadu. Jika terlambat ditangani, dampaknya bisa menurunkan produksi bahkan mematikan tanaman kelapa sawit,” kata Dosen Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan Politeknik Lamandau tersebut di Nanga Bulik.
Dia menjabarkan penanganan yang terlambat atau tidak tepat, berpotensi menimbulkan kerusakan serius pada tanaman hingga menyebabkan kematian pokok sawit dan kerugian ekonomi bagi petani.
Berkaitan hal ini juga telah pihaknya sampaikan dalam penyuluhan dan pengabdian kepada masyarakat yang membahas strategi pengendalian hama dan pernyakit di perkebunan kelapa sawit.
“Sejumlah hama utama yang kerap menyerang perkebunan kelapa sawit antara lain ulat api seperti Setothosea asigna, S. Nitens, Darna trima, D. Deducta, D. Bradleyi, Birthamula bisura, Mahasena corbetti, Metisa plana, dan Darna mundora,” ujarnya.
Kemudian juga terdapat hama ulat kantong, penggerak tandan buah, tikus, kumbang tanduk, serta hama babi. Sedangkan dari sisi pernyakit, petani diminta mewaspadai pernyakit busuk tandan buah, busuk pucuk, serta busuk pangkal batang yang di sebabkan oleh jamur Ganoderma sp.
“Pernyakit ini tergolong berbahaya lantaran dapat menyebar melalui akar dan sulit dikendalikan jika tidak terdeteksi sejak dini,” tuturnya.
Dia menyampaikan, gejala awal ganoderma biasanya ditandai dengan kanopi tanaman yang tampak pucat serta munculnya tiga atau lebih daun tombak dalam satu pokok.
“Apabila kondisinya sudah parah, tanaman tidak dapat diselamatkan,” terangnya merujuk pada kajian Pardamean (2017).
Pengendalian hama dan pernyakit dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yakni manual, biologis, dan kimia. Pengendalian manual dilakukan dengan mengambil hama secara langsung mengunakan alat pelindung diri, sedangkan pengendalian biologis memanfaatkan musuh alami hama. Adapun pengendalian kimia dilakukan secara bijaksana dan sesuai kebutuhan.
Sebagai contoh, hama tikus yang merusak buah kelapa sawit dapat dikendalikan dengan memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami. Cara tersebut dinilai lebih ramah lingkungan dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.
Selain itu, populasi ulat api dan ulat kantong dapat ditekan dengan memanfaatkan predator alami seperti Sycanus sp, dan Eocanthecona furcellata. Keberadaan predator tersebut dapat didukung dengan penanamnan tanaman iniang seperti Turnera subulata, Cassia cobanensis, Hibiscus rosa sinensis, Antigono leptopus, dan Euphorbia heterophylla.
Berdasarkan hasil observasi lapangan, Yulio mengungkapkan masih banyak petani yang belum mampu membedakan gejala serangan hama dan pernyakit dengan gejala kekurangan unsur hara. Kondisi tersebut kerap menyebabkan kesalahan perlakuan, seperti pemupukan pada tanaman yang sebenarnya sedang terserang hama atau pernyakit.
“Kesalahan ini justru dapat memperparah kondisi tanaman. Oleh karena itu, petani perlu dibekali pengetahuan untuk mengennai jenis hama dan penyakit serta melakukan sensus secara rutin,” katanya.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, para petani didorong untuk melakukan pengamatan dan percatatan gejala serangan sejak dini. Deteksi awal dinilai penting untuk mencegah meluaskan kerusakan tanaman.
“pengendalian hama dan penyakit dengan mengombinanikan cara manual, biologis, dan kimia merupakan langkah penting dalam mendukung perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Pemanfaatan musuh alami menjadi solusi yang aman bagi lingkungan sekaligus menguntungkan bagi petani,” jelasnya.
Sumber: kalteng.antaranews.com






