Sanggau, SAWIT INDONESIA – Dosen bidang kelapa sawit tidak cukup hanya menguasai teori di ruang kelas. Mereka perlu memahami praktik industri secara langsung agar pembelajaran yang diberikan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan Indonesia (ALPENBUN), Dr. Ir. Sri Gunawan, SP., MP., IPU, saat Workshop Penguatan Pengembangan SDM Kelapa Sawit Berkelanjutan bagi Dosen Perguruan Tinggi Pengelola Beasiswa BPDP di PT Agrina Sawit Perdana (ASP), Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung 26–29 Agustus 2026 tersebut diikuti 44 dosen dari perguruan tinggi pengelola Beasiswa BPDP dari berbagai daerah di Indonesia.
Dr. Sri Gunawan menegaskan, kualitas SDM menjadi salah satu penentu masa depan industri kelapa sawit. Oleh karena itu, pembangunan SDM yang kompeten, profesional, inovatif, adaptif dan memahami keberlanjutan harus dimulai dari pendidikan.
“Untuk menghasilkan SDM seperti itu, kita harus memulainya dari pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, kompetensi dosen sangat menentukan kualitas pembelajaran dan lulusan. Karena itu, dosen sawit perlu memahami proses bisnis perkebunan secara utuh, dari hulu hingga hilir.
“Dosen perlu memahami proses bisnis di perkebunan kelapa sawit dari hulu sampai hilir,” tegasnya.
Melalui kegiatan di PT ASP, dosen diajak keluar dari classroom menuju plantation, dari teori menuju praktik, dan dari knowledge menuju competency.
Pengalaman industri dibawa ke kampus
Dr. Sri Gunawan menekankan pengalaman lapangan yang diperoleh dosen tidak boleh berhenti sebagai pengalaman pribadi. Pengetahuan tersebut harus dibawa kembali ke kampus dan diterapkan dalam proses pembelajaran.
“Masukkan pengalaman lapangan ini ke dalam kurikulum, RPS, bahan ajar, studi kasus, praktikum, penelitian terapan, serta proyek mahasiswa,” katanya.
Mahasiswa tidak hanya mengetahui apa yang dikerjakan di perkebunan, tetapi juga memahami mengapa dan bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan.
Menurutnya, upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat link and match antara perguruan tinggi dan industri.
“Kurikulum harus link dengan perkembangan industri. Kompetensi lulusan harus match dengan kebutuhan dunia kerja. Dan proses pembelajaran harus menghasilkan kompetensi yang nyata dan terukur,” jelas Dr. Sri Gunawan.
Belajar sawit dari hulu hingga hilir
Selama berada di PT ASP, para dosen mendapatkan pengalaman mengenai berbagai proses perkebunan, mulai dari replanting, land clearing, pembibitan, penanaman dan perawatan TBM dan TM, pemupukan, manajemen panen dan transportasi.
Mereka juga mempelajari proses pengolahan kelapa sawit di pabrik dan laboratorium analitikal.
“Dengan demikian, kita tidak hanya melihat kelapa sawit sebagai sebuah tanaman, tetapi memahami kelapa sawit sebagai sebuah sistem industri dari hulu sampai hilir,” Dr. Sri Gunawan.
Lebih lanjut, ia menilai industri seperti PT ASP dapat menjadi learning laboratory bagi dosen dan mahasiswa. Karena itu, kolaborasi antara BPDP, ALPENBUN, perguruan tinggi dan industri perlu terus diperkuat.
BPDP mendukung pengembangan SDM melalui program beasiswa dan peningkatan kompetensi, ALPENBUN memperkuat jejaring perguruan tinggi dan menjembatani kampus dengan pemerintah serta industri, sementara industri menyediakan ruang pembelajaran nyata.
“Jika ketiga kekuatan ini kita satukan, pemerintah atau BPDP, perguruan tinggi atau ALPENBUN, dan industri, maka saya yakin kita dapat membangun ekosistem pendidikan kelapa sawit Indonesia yang semakin kuat,” ujarnya.
Dr. Sri Gunawan juga mengingatkan agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai workshop atau field trip. Ada tiga hasil yang harus dibawa pulang para dosen, yakni knowledge, skill, dan attitude.
Knowledge mencakup pemahaman teknologi dan praktik terbaik, skill berupa kemampuan memahami pekerjaan di kebun, pabrik dan laboratorium, sedangkan attitude mencakup disiplin, keselamatan kerja, produktivitas, efisiensi, integritas dan kepedulian terhadap keberlanjutan.
“Ketika knowledge, skill dan attitude kita integrasikan dalam pendidikan, maka tujuan akhirnya adalah satu: kompeten,” tegasnya.
Ia pun mengapresiasi BPDP dan PT ASP Sanggau yang telah membuka akses kebun, pabrik dan laboratorium sebagai ruang belajar bagi para dosen.
Bagi ALPENBUN, keterbukaan industri untuk berbagi pengalaman merupakan investasi penting untuk memperkuat pendidikan dan menyiapkan generasi SDM kelapa sawit yang kompeten, profesional, inovatif, adaptif dan berkelanjutan.














