LUWUK, SAWIT INDONESIA — Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit di Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, pada (15 - 20 September 2026) resmi ditutup pada Minggu (20 September 2026).
Pelatihan selama enam hari tersebut diikuti 186 pekebun dan penyuluh asal Kabupaten Banggai untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis budidaya kelapa sawit.
Mewakili Bupati Banggai Ir. H. Amirudin Tamoreka, S.P., M.M., M.P., Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Kabupaten Banggai, Faisal, S.Sos., M.Si., meminta peserta tidak berhenti pada pelatihan dan sertifikat, tetapi menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun.
“Setelah mengikuti pelatihan ini, diharapkan sekembalinya dari tempat ini ilmu pengetahuan yang telah diterima dapat diterapkan dalam mengolah kebun sawit,” ujar Faisal.
Menurutnya, penyuluh dan pekebun juga perlu terus bersinergi agar pengetahuan teknis yang diperoleh dapat diterapkan secara tepat. Peserta akan dipantau dan dievaluasi untuk melihat pemanfaatan pengetahuan dan keterampilan hasil pelatihan.
186 Peserta dari 300 Calon
Faisal mengatakan, pemerintah daerah sebelumnya mengusulkan sekitar 300 calon peserta. Setelah melalui seleksi, sebanyak 186 pekebun dan penyuluh dinyatakan memenuhi syarat.
Ia meminta peserta memanfaatkan kesempatan tersebut karena penerapan ilmu pelatihan diharapkan berdampak pada peningkatan produksi, produktivitas, dan pendapatan pekebun.
“Apabila diterapkan, akan berdampak pada peningkatan produksi dan produktivitas kelapa sawit yang selanjutnya dapat meningkatkan pendapatan,” katanya.
Faisal juga berharap Kabupaten Banggai kembali memperoleh alokasi pelatihan SDMP pada tahun berikutnya dengan jumlah peserta yang lebih banyak dan kelas sesuai kebutuhan pekebun.
Ilmu Harus Menyebar
Faisal menekankan, manfaat pelatihan tidak boleh berhenti pada 186 peserta. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dibagikan kepada pekebun lain sehingga menciptakan efek berantai bagi peningkatan SDM perkebunan.
“Ilmu pengetahuan yang didapatkan selama pelatihan hendaknya disebarkan dan dibagikan kepada pekebun lainnya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar pengembangan sawit tetap memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan melalui praktik budidaya dan pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan.
Sawit Berpotensi Tingkatkan Kesejahteraan
Dalam sambutannya, Faisal mengungkapkan perubahan pandangannya terhadap perkebunan kelapa sawit. Sebelumnya, ia menilai sawit kurang menarik karena membutuhkan waktu cukup panjang sebelum menghasilkan.
Namun, setelah melihat perkembangan perkebunan sawit di Banggai, ia menilai komoditas tersebut memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat.
“Setelah sekian lama menunggu, akhirnya petani sawit hari ini saya lihat tingkat kesejahteraannya di atas rata-rata,” katanya.
Menurutnya, sawit memiliki banyak manfaat dan dapat menjadi sumber bahan baku berbagai produk, mulai dari pangan hingga industri.
Karena itu, pengembangan sawit perlu dilakukan secara baik dan berkelanjutan agar manfaat ekonominya berjalan seiring dengan kepentingan sosial dan lingkungan.
Faisal juga mengapresiasi AKPY, instruktur, dan narasumber yang telah memberikan pengetahuan serta keterampilan kepada peserta.
Ia berharap enam hari pelatihan menjadi awal perubahan praktik budidaya di kebun.
“Buat apa kita enam hari di sini, tapi kosong yang kita bawa. Memang beda antara praktik dengan teori, tetapi tanpa teori, susah untuk mempraktikkannya,” ujarnya.
Pelatihan SDMP 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit tersebut kemudian resmi ditutup. Peserta diharapkan membawa ilmu yang diperoleh, menerapkannya di kebun, dan membagikannya kepada pekebun lain.






