• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Pelatihan dan Beasiswa Sawit: Strategi Naikkan Produktivitas hingga 6 Ton per Hektare

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Produktivitas kebun sawit rakyat yang masih berada di kisaran 3–3,5 ton per hektare per tahun dinilai belum optimal untuk menopang kebutuhan pangan, industri hilir, maupun bioenergi. Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama PT LPP Agro Nusantara memperkuat program pengembangan sumber daya manusia (SDM) sawit melalui jalur pendidikan dan pelatihan.

Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Jenderal Perkebunan, Baginda Siagian, menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu faktor penentu dalam mendorong lonjakan produktivitas sawit rakyat.
“Kalau produktivitas kebun rakyat bisa ditingkatkan hingga 5–6 ton per hektare per tahun, maka produksi sawit nasional akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, industri hilir, hingga bioenergi. Salah satu jalan yang harus ditempuh adalah dengan memperkuat kapasitas SDM pekebun,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (11/9/2025).

Baginda menjelaskan, ada dua jalur utama pengembangan SDM sawit yang difasilitasi BPDP, yaitu pendidikan formal melalui beasiswa serta pelatihan teknis dan manajerial.

Beasiswa ditujukan bagi anak pekebun, penyuluh, hingga ASN yang memiliki keterkaitan dengan sektor sawit. Tahun ini, dari 20.800 pendaftar lulusan SLTA, sebanyak 4.000 orang berhasil meraih beasiswa penuh dan tersebar di 41 perguruan tinggi dari Aceh hingga Papua. Sementara pelatihan lebih menyasar kelompok pekebun, koperasi, dan lembaga pendamping, dengan materi mulai dari budidaya berkelanjutan, panen dan pascapanen, kelembagaan, kewirausahaan, hingga promosi hasil sawit.

Sejak 2016, BPDP menggandeng LPP Agro Nusantara sebagai salah satu mitra strategis dalam penyelenggaraan pelatihan. Tahun ini, dari target nasional 10.786 peserta di 17 provinsi, LPP mendapat mandat melatih 2.066 peserta melalui 71 kelas pelatihan di 9 provinsi penghasil sawit.

Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo, menambahkan bahwa metode pelatihan tidak hanya bersifat klasikal di kelas, tetapi juga langsung praktik di lapangan.

“Melalui pelatihan seperti ini, pekebun tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya di kebun masing-masing. Harapannya, keterampilan teknis dan manajerial pekebun semakin baik sehingga produktivitas kebun meningkat,” jelasnya.

Direktur Penyalur Dana Sektor Hilir BPDP, Muhammad Alfansyah, menekankan bahwa pengembangan SDM menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan sawit nasional. Dana pungutan ekspor yang dikelola BPDP, kata dia, tidak hanya dialokasikan untuk peremajaan sawit rakyat (PSR), sarana-prasarana, maupun penelitian, tetapi juga untuk mendukung program pendidikan dan pelatihan.

“Pelatihan ini tujuannya sederhana tapi krusial, yakni mendorong produktivitas sawit rakyat agar tidak tertinggal dari perkebunan perusahaan besar. Industri sawit ini penopang utama ekonomi Indonesia, sehingga kualitas SDM menjadi fondasi keberlanjutan,” tegasnya.

Melalui kombinasi pendidikan formal, pelatihan teknis, serta dukungan penelitian, BPDP optimistis produktivitas sawit rakyat bisa meningkat signifikan. Dengan demikian, Indonesia tak hanya mempertahankan posisinya sebagai produsen sawit nomor satu dunia, tetapi juga memperkuat kesejahteraan jutaan pekebun sawit di tanah air.

Artikel Terkait