Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mengakselerasi pemberdayaan UMKM berbasis sawit sebagai penggerak ekonomi lokal. Semangat ini tampak jelas saat kunjungan ke pabrik UMKM PT Ratu Bio Indonesia di Gunung Putri, Bogor, Jumat (24/10/2025).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit yang diselenggarakan oleh Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan dari BPDP. Agenda ini menjadi ajang berbagi inspirasi dan memperkuat sinergi antara jurnalis, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan industri sawit dalam mendorong promosi produk-produk berbasis sawit.
Dalam kesempatan tersebut, Helmi Muhansyah, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, memaparkan visi besar lembaganya untuk melahirkan ribuan wirausaha perkebunan dengan tagline “UMKM Sawit Kaya Bersama BPDP”—sebuah semangat yang sejalan dengan gerakan nasional “Kaya Bersama Purbaya”.
Helmi menuturkan kisah inspiratif seorang pengusaha muda asal Yogyakarta, penerima beasiswa LPDP Kementerian Keuangan, yang sukses mengubah bisnis batiknya menjadi berbasis sawit.
“Awalnya omzet hanya Rp 500 juta dengan 15 pekerja, sebagian besar ibu-ibu dari Lendah, Kulon Progo. Setelah kami perkenalkan malam batik berbasis sawit, omzet naik lebih dari Rp 1 miliar, dan tenaga kerja bertambah menjadi 60 orang,” ujarnya.
Kisah ini, kata Helmi, menjadi bukti nyata bahwa sawit mampu memberi nilai tambah besar bagi UMKM dan masyarakat sekitar.
Menurut Helmi, BPDP tidak hanya ingin mengenalkan sawit secara teoritis kepada mahasiswa atau masyarakat awam.
“Kami sudah memiliki 100 katalog produk berbasis sawit, dan menargetkan lahirnya 1.000 UMKM perkebunan yang menjadikan sawit sebagai bahan utama, di samping komoditas lain seperti kakao dan kelapa,” jelasnya.
Untuk memperluas jangkauan, BPDP menjalin kemitraan dengan organisasi kemahasiswaan seperti Muhammadiyah, PMII, dan NU. Melalui kolaborasi ini, diharapkan muncul lebih banyak pelaku usaha muda kreatif yang memanfaatkan potensi sawit dalam berbagai lini usaha.
Inisiatif tersebut juga selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
“Konsumsi domestik harus menjadi pilar pertumbuhan. Kami ingin pastikan produk yang dikonsumsi masyarakat adalah hasil karya anak bangsa, bukan impor,” tegas Helmi.
Tak berhenti di situ, BPDP juga memperkenalkan inovasi produk pangan berbasis sawit, seperti roti dengan saripati sawit yang telah dipromosikan di sejumlah kota, termasuk Jambi.
“Produk ini potensial dan diminati. Kami berharap media turut menyebarluaskan informasi tentang inovasi ini,” kata Helmi.
Sebagai langkah strategis, BPDP berencana mendirikan Rumah Display UMKM Perkebunan di Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta. Fasilitas ini akan menjadi pusat promosi, transaksi, sekaligus ruang diskusi bagi para pelaku UMKM sawit dan pemangku kepentingan.
Produk turunan sawit kini tak lagi identik dengan minyak goreng atau biodiesel. Pelaku UMKM mulai menembus sektor bernilai tinggi seperti kosmetika dan perawatan pribadi. Salah satu yang melangkah maju adalah PT Ratu Bio Indonesia, yang tengah menyiapkan ekspansi ke pasar kosmetik berbahan dasar sawit.
“Selama ini kami fokus pada produk rumah tangga seperti hand soap, dish wash, dan hand sanitizer. Ke depan, kami masuk ke kosmetik karena nilai pasarnya jauh lebih besar,” ujar Shandyka Yudha Pratama, General Manager PT Ratu Bio Indonesia.
Perusahaan yang berbasis di Gunung Putri ini semula memproduksi produk PKRT menggunakan bahan turunan sawit seperti fatty acid methyl ester dan methyl ester sulfonate (MES). Kini, mereka juga mengolah crude gliserol—yang dulu dianggap limbah industri—menjadi gliserin, bahan penting untuk pelembap kulit.
“Hand sanitizer biasanya bikin kulit kering. Dengan gliserin sawit, kulit jadi lembap dan tidak iritasi,” jelas Shandyka.
Menariknya, Ratu Bio sudah menjadi pemasok bahan methyl ester ke Petrokimia Gresik, menandakan produk UMKM sawit mulai diminati industri besar.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 169)














