Jakarta, SAWIT INDONESIA - Inovasi energi terbarukan kembali hadir dari dunia akademik. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengembangkan bensin alternatif berbasis kelapa sawit bernama biogasolin sawit ITS (Benwit) RON 90. Inovasi ini digadang-gadang mampu menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) fosil.
Ketua tim riset sekaligus dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Hosta Ardhyananta, mengungkapkan bahwa penggunaan Benwit berpotensi menghemat konsumsi BBM nasional hingga 10 persen. Angka ini tergolong signifikan, mengingat penggunaan biogasolin secara global saat ini masih berada di kisaran 5 persen.
“Jika Indonesia mampu mencapai 10 persen, ini sudah merupakan capaian yang sangat besar dalam pengembangan energi alternatif,” jelasnya dalam demonstrasi di Galeri Riset dan Inovasi Teknologi (GRIT) ITS.
Efisiensi Tinggi, Minim LimbahSalah satu keunggulan utama Benwit terletak pada efisiensi produksinya. Dalam satu kali proses pengolahan, bahan baku kelapa sawit dapat menghasilkan sekitar 50 hingga 55 persen bensin tanpa menyisakan limbah yang terbuang sia-sia.
Menariknya, residu yang dihasilkan justru masih dapat dimanfaatkan, salah satunya sebagai bahan bakar kompor. Artinya, seluruh proses produksi bersifat optimal dan ramah lingkungan.
Dari sisi konversi, sekitar 10 kilogram kelapa sawit mampu menghasilkan kurang lebih 5 liter bensin, menjadikannya alternatif yang cukup menjanjikan dari segi produktivitas.
Masih Tahap Blending, Minim Modifikasi MesinSaat ini, penggunaan Benwit masih dilakukan dengan metode blending, yaitu mencampurkan bensin sawit dengan bensin konvensional. Metode ini dipilih karena tidak memerlukan banyak perubahan pada mesin kendaraan yang sudah ada.
Menurut tim peneliti, penggunaan langsung (full biogasolin) masih membutuhkan riset lanjutan, terutama terkait penyesuaian mesin agar dapat bekerja optimal dengan bahan bakar baru tersebut.
“Dengan blending, kendaraan yang ada saat ini sudah bisa menggunakan Benwit tanpa modifikasi besar,” tambah Hosta.
Emisi Lebih Rendah, Ramah LingkunganDari hasil penelitian selama kurang lebih tiga tahun, Benwit menunjukkan potensi penurunan emisi gas buang yang cukup signifikan. Emisi dari satu liter campuran bensin hanya sekitar 10 persen dibandingkan dominasi 90 persen bensin konvensional.
Meski demikian, pengujian terhadap dampak jangka panjang pada mesin masih terus dilakukan. Untuk penggunaan jangka pendek, hasilnya menunjukkan performa yang stabil dan tidak menimbulkan masalah berarti.
Dukung Kemandirian Energi NasionalRektor ITS, Bambang Pramujati, menilai bahwa inovasi Benwit merupakan langkah strategis dalam menghadapi krisis energi global sekaligus mendorong kemandirian energi nasional.
Konversi crude palm oil (CPO) menjadi bensin biogasolin dinilai sebagai solusi nyata di tengah keterbatasan cadangan BBM fosil.
“Ini adalah momentum yang tepat untuk menghadirkan solusi energi alternatif yang dapat membantu mengatasi krisis energi global,” ujarnya.
Pengembangan bensin sawit Benwit RON 90 membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi. Dengan efisiensi tinggi, emisi lebih rendah, serta potensi penghematan BBM nasional hingga 10 persen, inovasi ini layak menjadi perhatian serius untuk dikembangkan lebih lanjut.
Sumber: gapki.id














