• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Outlook IPOSS: Harga CPO Q2 2026 Melonjak, Dipicu Geopolitik Energi Global

Jakarta, SAWIT INDONESIA — Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan harga crude palm oil (CPO) global akan naik tajam sepanjang triwulan II/2026. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya tensi geopolitik dan gangguan pada pasar energi dunia.

Dalam laporan Outlook Sawit Q2 2026, IPOSS mencatat harga CPO naik dari sekitar US.165 per ton pada Maret menjadi US.440 per ton pada April. Harga itu diperkirakan kembali naik ke US.701 per ton pada Mei dan mencapai US.783 per ton pada Juni 2026.

IPOSS menyebut lonjakan harga dipicu kenaikan harga minyak mentah, gangguan distribusi energi, dan premi risiko yang meningkat akibat konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

“Penguatan ini terutama didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia, gangguan distribusi energi, dan meningkatnya premi risiko akibat eskalasi perang,” tulis IPOSS dalam laporannya dikutip Selasa (31 Maret 2026).

Keterkaitan dengan Pasar Energi

IPOSS menilai pasar CPO kini semakin terhubung dengan pasar energi. Saat harga minyak naik, biodiesel berbasis sawit menjadi lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.

Kenaikan harga energi juga mendorong biaya logistik global. Kondisi ini memperkuat posisi CPO sebagai komoditas energi alternatif.

IPOSS menegaskan bahwa pasar tidak lagi hanya melihat faktor produksi dan ekspor. Pelaku pasar kini mempertimbangkan peran sawit sebagai substitusi energi.

Harga Domestik Ikut Naik

Di dalam negeri, harga CPO juga menunjukkan tren kenaikan. IPOSS mencatat harga sekitar Rp15.065 per kg pada Maret dan memperkirakan naik menjadi Rp18.776 per kg pada April 2026.

IPOSS menjelaskan bahwa pemerintah tetap mengatur harga domestik melalui Harga Referensi (HR), Pungutan Ekspor (PE), dan Bea Keluar (BK). Kebijakan ini membentuk harga berdasarkan skema export parity price.

Di sisi pasokan, IPOSS melihat tekanan pada produksi nasional. Gangguan hidrologis pada akhir 2025 masih berdampak hingga awal 2026. Selain itu, sejumlah wilayah mulai menunjukkan tanda musim kering.

Kondisi ini membatasi fleksibilitas pasokan sawit. Akibatnya, harga semakin sensitif terhadap perubahan global.

IPOSS menilai pergerakan harga pada triwulan II/2026 dipengaruhi banyak faktor. Faktor tersebut mencakup supply–demand, risiko iklim, konsumsi domestik, dan geopolitik.

IPOSS menegaskan bahwa kenaikan harga kali ini bukan sekadar tren jangka pendek. Perubahan ini mencerminkan hubungan baru antara sawit, energi, perdagangan, dan geopolitik.

“Penguatan harga pada Q2 2026 bukan sekadar gejala pasar jangka pendek, tetapi bagian dari perubahan yang lebih luas,” tulis IPOSS.

IPOSS berharap laporan ini dapat membantu pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi membaca arah industri sawit ke depan.

Artikel Terkait