• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Dr. Purwadi: Lulusan AKPY-STIPER Harus Percaya Diri, dari Junior Supervisor hingga Manajer

UNGARAN, SAWIT INDONESIA — Lulusan pendidikan vokasi perkebunan kelapa sawit tidak boleh minder dalam memasuki dunia kerja. Dengan bekal pendidikan dan pengalaman praktik, lulusan AKPY-STIPER dinilai memiliki peluang membangun karier dari level operasional hingga posisi manajerial.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY), Dr. Ir. Purwadi, MS, saat memberikan motivasi kepada mahasiswa dalam kegiatan Pembukaan Kuliah dan Bintalfisdisbun AKPY-STIPER Tahun Akademik 2026/2027 di SEAT (KP2 STIPER), Ungaran, Rabu (7/10/2026).

YPKPY merupakan yayasan yang menaungi AKPY-STIPER dan INSTIPER Yogyakarta dalam pengembangan pendidikan perkebunan. Di hadapan mahasiswa baru, Dr. Purwadi meminta mereka membangun kepercayaan diri sejak awal.

Menurutnya, mahasiswa AKPY-STIPER beruntung mendapatkan pendidikan vokasional yang secara khusus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit.

“Saudara harus percaya diri. Di dalam diri Saudara mengalir DNA terbaik pendidikan sawit,” tegas Dr. Purwadi.

Ia menjelaskan, YPKPY membangun ekosistem pendidikan perkebunan melalui jenjang dan karakter pendidikan yang berbeda. INSTIPER Yogyakarta dikembangkan sebagai pendidikan berbasis sains, sementara AKPY diarahkan sebagai pendidikan vokasional yang menekankan kesiapan kerja dan keterampilan lapangan.

“Leveling-nya memang berbeda, tetapi DNA-nya sama. Kita sama-sama memasok SDM untuk industri perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.

Menurut Dr. Purwadi, lulusan AKPY tidak harus berhenti pada posisi awal di lapangan. Karier dapat berkembang seiring dengan pengalaman, kompetensi dan kemampuan memimpin.

Ia menggambarkan jenjang tersebut mulai dari foreman atau pengawas operasional, yang menurutnya lebih tepat disebut Junior Supervisor, kemudian berkembang menjadi Supervisor atau setara asisten kebun, hingga pada akhirnya dapat mencapai posisi manajer.

“Dari diploma pun bisa sampai manajer. Dan hari ini sudah terjadi. Beberapa hasil didik akademi vokasi ini sudah ada yang menjadi manajer,” katanya.

Dr. Purwadi menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasional tidak membatasi masa depan lulusan. Keterampilan praktis yang diperoleh selama pendidikan justru menjadi modal penting untuk menjawab kebutuhan industri perkebunan yang membutuhkan tenaga siap kerja.

Ia juga mendorong lulusan AKPY untuk mampu berkolaborasi dengan lulusan INSTIPER. Menurutnya, kedua institusi memiliki peran yang saling melengkapi dalam memasok SDM perkebunan.

“Di dunia kerja, Saudara harus mampu berkolaborasi dengan kakak-kakak Saudara. INSTIPER memasok SDM berbasis sains, sementara AKPY memasok SDM vokasional,” jelasnya.

YPKPY Bangun Ekosistem Pendidikan Perkebunan

Purwadi mengungkapkan, YPKPY terus membangun ekosistem pendidikan perkebunan yang mencakup berbagai jenjang.

Ke depan, AKPY diarahkan untuk pendidikan jenjang D1 dan D2. Sementara pendidikan vokasional jenjang D3 akan dikembangkan melalui politeknik di bawah YPKPY. Adapun INSTIPER tetap menjalankan pendidikan pada jenjang S1 dan S2, serta ke depan berpotensi mengembangkan S3.

Dengan ekosistem tersebut, YPKPY ingin menghadirkan kesinambungan pendidikan perkebunan, khususnya kelapa sawit, mulai dari pendidikan vokasional hingga pendidikan tinggi berbasis sains.

“Yes, I Can, I Will Do It”

Selain membangun kepercayaan diri, Purwadi menekankan pentingnya sikap kerja. Ia mengajak mahasiswa memperkuat semboyan AKPY menjadi dua pesan utama: “Yes, I can, I will do it” dan “We are A team.”

Pesan pertama menggambarkan karakter lulusan vokasi yang harus mampu bekerja dan mengambil tindakan di lapangan.

Artikel Terkait