• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Bukan Sekadar Lulus, AKPY-STIPER Gembleng 862 Mahasiswa Jadi SDM Sawit Siap Kerja

UNGARAN, SAWIT INDONESIA — Lulus dan memperoleh ijazah bukan akhir dari pendidikan di Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER). Sebanyak 862 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 justru mulai ditempa untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) perkebunan yang siap terjun ke industri kelapa sawit.

Direktur AKPY-STIPER Dr. Sri Gunawan, SP, MP, IPU, mengatakan dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan, disiplin, mental dan karakter kerja.

“Mahasiswa harus memahami knowledge, memiliki skill, dan tidak lupa attitude. Dengan demikian, akan terwujud mahasiswa yang kompeten, siap kerja, tangguh dan terampil di lapangan,” ujar Sri Gunawan saat membuka kuliah dan kegiatan Pembinaan Mental, Fisik, Disiplin dan Kenal Kebun (Bintalfisdisbun) Tahun Akademik 2026/2027 di SEAT (KP2 STIPER), Ungaran, Jawa Tengah, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, proses pendidikan di AKPY dirancang bertahap agar mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas. Setelah mengikuti Bintalfisdis selama satu minggu di Akademi Angkatan Udara (AAU), mahasiswa menjalani Kenal Kebun di kampus.

Tahap tersebut menjadi pengenalan awal terhadap budaya kerja, aktivitas lapangan dan business process perkebunan kelapa sawit.

“Kenal Kebun ini untuk mengetahui dan mengenal budaya kebun, pekerjaan kebun serta business process yang ada di kebun. Sekaligus menjadi matrikulasi,” katanya.

Selanjutnya, mahasiswa menjalani pembelajaran di kampus selama sekitar tujuh hingga delapan bulan sebelum masuk ke tahap learning factory. Pada tahap ini, mahasiswa mempraktikkan langsung pekerjaan yang dijalankan di perkebunan kelapa sawit.

“Pada saat learning factory, kalian akan betul-betul mempraktikkan semua pekerjaan yang ada di perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.

Setelah itu, mahasiswa diterjunkan ke perusahaan melalui program magang. Pengalaman tersebut kemudian dilengkapi dengan uji kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang terhubung dengan BNSP.

Dari 27 Provinsi

Sebanyak 862 mahasiswa baru tersebut terdiri atas 420 laki-laki dan 442 perempuan. Mereka tersebar pada empat program studi, yakni D1 Pembibitan Kelapa Sawit, D1 Pemeliharaan Kelapa Sawit, D2 Budidaya Kelapa Sawit dan D2 Teknik Pengolahan Kelapa Sawit.

Mahasiswa berasal dari 27 provinsi dan 127 kabupaten. Lima daerah dengan jumlah mahasiswa terbanyak antara lain Sumatera Utara sebanyak 141 mahasiswa, Riau 101 mahasiswa, Sumatera Selatan 84 mahasiswa dan Sumatera Barat 45 mahasiswa.

“Dari Sabang sampai Merauke berkumpul di AKPY. Mereka nantinya akan menjadi taruna andalan sawit,” kata Sri.

Konsep industry ready menjadi bagian penting pendidikan AKPY. Keterlibatan industri dibangun sejak proses pembelajaran, magang hingga peluang rekrutmen lulusan.

Sri Gunawan juga menyampaikan apresiasi kepada BPDP dan Ditjenbun yang telah memberikan kepercayaan kepada AKPY dalam pendidikan mahasiswa program beasiswa sejak 2016. Tahun akademik 2026/2027 menjadi angkatan ke-10 program tersebut.

Ia menegaskan, mahasiswa tidak boleh menjadikan ijazah sebagai tujuan akhir. Setiap hari harus ada kemampuan baru yang diperoleh.

“Pertanyaannya setiap hari adalah: hari ini saya bisa melakukan apa yang kemarin belum bisa? Jadi setiap hari harus ada peningkatan, harus ada tambahan ilmu,” tegasnya.

Bagi AKPY, keberhasilan pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan, tetapi melahirkan SDM yang mampu membuktikan kompetensinya ketika masuk ke kebun dan industri.

Semangat itu dirangkum dalam nilai “industry ready, tangguh dan terampil”, dengan pesan yang menjadi identitas mahasiswa: “Yes, I can. I will do it. We are a team.”

Dengan bekal knowledge, skill dan attitude, 862 mahasiswa tersebut dipersiapkan menjadi generasi baru SDM perkebunan yang mampu beradaptasi dan menjawab kebutuhan industri kelapa sawit.Versi ini sengaja memangkas beberapa pengulangan dan mempertajam tiga pesan berita: 862 mahasiswa, pola pendidikan yang langsung terhubung dengan industri, serta target “siap kerja”.

Artikel Terkait