Berita Terbaru
Menteri LHK Apresiasi Keberhasilan Pengendalian Karhutla
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih atas keberhasilan semua pihak yang telah berperan dalam pengendalian karhutla pada dua tahun terakhir. Hal ini diungkapkan dalam Rapat Koordinasi Teknis Dalkarhutla dan Antisipasi Kemarau Tahun 2022 yang dilaksanakan secara daring, 10/01/2021.
“Pada tahun 2020, Presiden menugaskan untuk hati-hati jangan sampai jadi double disaster Covid-19 dan karhutla. Kami mengucapkan terima kasih dalam dua tahun terakhir kita bisa menjalankan dengan baik upaya pengendalian karhutla,” ungkap Siti Nurbaya.
Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Laksmi Dhewanthi, mengungkapkan pada tahun 2021 telah dilaksanakan langkah-langkah pengendalian karhutla seperti penguatan koordinasi dengan melaksanakan rakornas, rakorsus tingkat menteri, dan rakor teknsi bulanan dalkarhutla; pengendalian karhutla meliputi patroli terpadu, TMC, patroli udara; peningkatan kesiapsiagaan dengan menyurati para gubernur agar meningkatkan upaya pengendalian karhutla; peningkatan kapasitas dan pendaaan; serta kerjasama regional dan internasional.
Laksmi menambahkan kegiatan yang perlu ditindaklanjuti pada tahun ini meliputi pengamanan dan pengendalian karhutla di wilayah IKN, penanganan karhutla di provinsi NTT dan NTB, tindak lanjut COM/COP to AATHP – ACCTHPC di Indonesia sebagai salah satu deliverable keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023, revitalisasi sarpras dan peningkatan SDM pengendalian karhutla, peningkatan koordinasi dengan pemangku kepentingan, pelaksanaan operasi TMC, penambahan dan pembinaan MPA dan MPA-P, serta pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah.
“Kami mengharapkan Operasi TMC sesegara mungkin dapat dilakukan dengan meperhatikan kondisi lapangan dan perkiraan cuaca agar kegiatan bisa berlangsung efektif dan efisien,” harap Laksmi.
Urip Haryoko, Plt. Deputi Klimatologi BMKG, mengungkapkan sampai akhir Desember 2021, Indeks ENSO menunjukkan kategori La Nina Moderat, BMKG memprakirakan kondisi ENSO La Nina lemah hingga moderat akan berlangsung hingga Mei–Juni–Juli 2022. Sedangkan Indeks Dipole Mode menunjukkan kondisi IOD Netral dan diprakirakan akan netral setidaknya hingga Juni 2022.
Urip menambahkan potensi karhutla di semester I, 2022 pada periode Mei s.d Juni tahun 2022, seiring progresi kearah musim kemarau, kategori nilai indeks iklim tersebut diprediksikan meningkat, terutama secara spesifik di sekitar wilayah Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Nusat Tenggara, hingga sebagian kecil wilayah Jawa.
Peneliti Madya Kelompok Pelaksana Fungsi Pengelolaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Budi Harsoyo mengungkapkan berdasarkan pola kemunculan hotspot dan pola hujan di beberapa provinsi, maka peluang paling baik untuk pelaksanaan TMC di Riau pada Maret-April dan Juni-Oktober, Sumsel-Jambi pada Juni-Oktober, Kalbar Maret-April dan Juli-September, sedangkan Kalteng pada Juli-September 2022. Namun demikian untuk menentukan hari H pelaksanaan, perlu diupadate potensi awan pada periode akan dilaksanakan TMC.
Budi menambahkan berdasarkan Prediksi TMAT gambut dengan menggunakan Metode Machine Learning, untuk wilayah Riau dan Jambi, dalam 3 bulan kedepan ada kecenderungan menurun, ada peluang munculnya hotspot di wilayah terbut, sehingga perlu diwaspadai. Perlu dilakukan monitoring secara berkala perkembangan hotspot, curah hujan dan TMAT gambut dan juga koordinasi secara kontinyu dengan stakeholder lebih awal agar pelaksanaan TMC bisa terlaksana tepat waktu dan mendapatkan hasil yang optimal.
Rahmat Hidayat, IPB University, mengungkapkan Chance La Nina dengan probability diatas 65% hingga Maret-April 2022 dan menuju kondisi Netral pada pertengahan 2022. Tren kenaikan SST perlu diwaspadai dan dimonitor lebih lanjut.
“Prediksi curah hujan beberapa lembaga seperti BMKG, IRI dan CFSV2 NOAA memperlihatkan respon curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia umumnya bersifat normal saat memasuki Januari – Maret 2022,” jelas Rahmat.
Rahmat juga mengingatkan agar monitoring kondisi klimatologi perlu terus dilakukan khususnya untuk sifat curah hujan pada spesifik lokasi di Indonesia.
Sumber: sipongi.menlhk.go.id






