• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Konflik India-Pakistan, Pemerintah Waspadai Dampaknya terhadap Ekspor CPO

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pemerintah tengah mencermati potensi dampak konflik antara India dan Pakistan terhadap kinerja ekspor Indonesia, khususnya di sektor batu bara dan minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa ketegangan geopolitik kedua negara besar di Asia Selatan itu bisa mempengaruhi jalur ekspor Indonesia.

“Ini akan berdampak pada ekspor kita juga. Sedikit banyaknya akan berpengaruh, khususnya untuk batu bara dan CPO,” ujar Bahlil kepada wartawan di Jakarta Barat, Jumat (9/5).

Meski demikian, Bahlil yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar berharap eskalasi konflik tidak mengganggu sektor perdagangan tersebut. Ia menyebut saat ini pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah mitigasi.

“Mudah-mudahan ini tidak terjadi. Saya sedang mendesain [langkah pencegahan],” ujarnya.

Lebih lanjut, Bahlil memastikan pemerintah akan segera melakukan kajian mendalam terkait kemungkinan dampak perang terhadap ekspor nasional. Kajian ini diperlukan mengingat posisi India dan Pakistan sebagai negara dengan ekonomi besar serta mitra dagang strategis.

“Nanti kita akan lakukan kajian karena negara mereka kan besar. Jadi kita lihat apakah wilayah tujuan ekspor batu bara kita termasuk yang terdampak atau tidak,” jelasnya.

Hingga kini, Indonesia masih menggantungkan sebagian besar ekspor batu bara dan CPO ke pasar Asia, termasuk India sebagai salah satu negara tujuan utama.

Sementara itu, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Farid Amir menyatakan, konflik yang terjadi belum berdampak signifikan terhadap fluktuasi harga CPO global. Hal ini disebabkan oleh karakteristik kedua negara yang bukan merupakan produsen maupun konsumen utama minyak nabati dunia.

“Berbeda dengan perang Rusia-Ukraina yang langsung mengganggu pasokan minyak bunga matahari, perang India-Pakistan sejauh ini belum memicu gejolak harga di pasar minyak nabati global,” kata Farid, Jumat (9/5).

Meski demikian, pemerintah tetap siaga. Farid menekankan bahwa eskalasi konflik di wilayah Kashmir tetap berpotensi menurunkan permintaan ekspor dari kedua negara, yang selama ini menjadi pasar strategis bagi produk turunan sawit Indonesia.

Pada 2024, ekspor sawit Indonesia ke India mencapai 4,58 juta ton, dan ke Pakistan 3,01 juta ton, dengan tren pertumbuhan masing-masing sebesar 4% dan 3% dalam lima tahun terakhir.

Artikel Terkait