Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Ketua Umum APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia), Dr. Gulat Manurung, dorong pengembangan sawit dan percepatan hilirisasi sawit secara terintegrasi masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Usulan ini disampaikannya saat menjadi narasumber Workshop Sumber Daya Manusia Industri Perkebunan Kelapa Sawit yang diadakan INSTIPER Yogyakarta di Gedung Auditeater Yogyakarta, Selasa (9 Desember 2025).
Dikatakan, Dr. Gulat, program Pengembangan Sawit dan Percepatan Hilirisasi Sawit secara Terintegrasi nantinya di bawah koordinasi dan tanggung jawab Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Nasional (BAPPENAS).
“Dalam program tersebut, poin yang paling utama yaitu Tata Kelola dan Penguatan Sektor Hulu (huluisasi kebun sawit). Mengingat permasalahan utama sawit Indonesia adalah disektor hulu terutaman kebun sawit rakyat dimana produktivitasnya 3-4 kali lebih rendah dari idealnya. Ini sangat bernahaya jika terabaikan karena jutaan petani sawit yang menggantungkan hidupnya dari perkebunan sawit,” katanya.
“Untuk mewujudkan tata kelola dan penguatan sektor hulu serta sinkronikasi semua lini sektor sawit, diperlukan pembentukan Badan Kelapa Sawit Nasional (BKSN), integrasi data dan sistem kelapa sawit berkelanjutan, penguatan bursa CPO, penguatan riset sawit, percepatan penataan tenurial lahan sawit dalam kawasan hutan, percepatan program peremajaan sawit rakyat (PSR), percepatan perolehan E-STDB (surat tanda daftar budidaya) pekebun rakyat, dan peningkatan kapasitas pekebun rakyat. Semua itu harapannya dapat diwujudkan pada 2026,” sambung Dr. Gulat.
"Sebelum terlambat dan tidak ada pilihan lain, kita harus kesana mengingat urgensinya Badan Sawit tersebut," lanjutnya.
"Hasil kajian yang dilakukan APKASINDO (2024), pada lima tahun terakhir, nilai tukar petani sawit (NTP) dan Efisiensi Usahatani atau Return Cost Ratio (RCR) terkhusus yang belum mengikuti PSR semakin menurun, namun sebaliknya pada petani yang sudah mengikuti program PSR," ulas Dr Gulat.
"Sangat berkorelasi potensi tercapainya pertumbuhan ekonomi 8% di 2029 dengan huluisasi perkebunan sawit rakyat," tegasnya.
Gulat mengatakan daya dukung sawit mampu menciptakan lapangan kerja sebesar 16,5 juta orang dan melibatkan 2,5 juta KK (kepala keluarga) petani sawit (2024). Berdampak besar pada kemakmuran rakyat. Industri sawit berkontribusi pada devisa non migas sebesar USD 27,76 miliar (2024) atau setara 11,2% dari total devisa non migas yang bernilai sebesar USD 248,83 miliar (satu data Kementerian Perdagangan, 2024).
Saat ini, Indonesia memiliki peran penting dalam ketahanan nasional di bidang pangan: penyediaan minyak goreng dan bahan pangan, ketahanan energi: biodiesel sawit, instrumen efektif geopolitik dan geoekonomi: penguasaan pasar global: penguasaan pasar global – Indonesia menguasai 60% pasar minyak nabati global (BRIN, 2024).
“Maka, untuk mewujudkan itu semua, diperlukan peran SDM Hybrid bidang saait untuk menjawab permasalahan dan tantangan industri sawit dari hulu hingga hilir,” ujar Dr. Gulat.
Gulat pun mendukung program pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit dari pemerintah yang diimplementasikan melalui pendidikan (beasiswa sawit) dan pelatihan (pekebun sawit). Namun, dalam pelaksanaannya yang sudah berjalan hampir satu dekade perlu ada evaluasi, agar tepat sasaran.
“Harapannya, program tersebut bisa mencetak SDM unggul berkarakter hybrid untuk pengembangan industri sawit nasional dan berdaya saing. Serta mampu menghadapi segala tantangan yang ada baik di dalam maupun luar negeri,” pungkas Dr. Gulat.














