Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengapresiasi program riset Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (PDPKS) karena berkontribusi pada kebijakan hilirisasi sawit, terutama memperluas riset rekayasa produk dan proses pengolahan kelapa sawit menjadi produk 5F (food, fitonutrient, fine chemical, fuel liquid, fiber/biomaterial).
DirekturJenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI Putu Juli Ardika menjelaskan sejumlah prototipe produk baru 5F hilir kelapa sawit telah ditampilkan dalam event tahunan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI), dimana untuk tahun 2024 ini akan diadakan di Bali, 2 minggu mendatang.
Putu Juli mengatakan, pada lingkup Kemenperin, program riset BPDPKS juga telah mewujudkan Pilot Plant pengolahan biomassa menjadi prekursor industri biomaterial yang menjadi pusat persiapan pembangunan pabrik pengolahan biomassa.
“Fasilitas pilot plant ini dibangun atas pendanaan BPDPKS dan berlokasi di BBSPJIA Bogor, telah diresmikan Menperin pada 8 Agustus 2024. Hal tersebut menjadi bentuk konkret komersialisasi riset menuju skala industri yang bernilai tambah dalam rangka hilirisasi industri,” ujar Putu Juli saat dihubungi pertengahan September 2024.
Peraih Gelar S2 Universitas Tsubaku Jepang ini menambahkan bahwa program riset sawit juga mendukung penyusunan kebijakan hilirisasi, pada skema 5F. Sebagai contoh pada pilot plant BBSPJIA, fasilitas tersebut bisa digunakan/disewa oleh calon investor untuk menguji teknologi proses pengolahan biomassa sebagai tahapan crucial engineering design pembangunan pabrik prekursor bioechemical.
“Peralatan tersebut juga menjadi open/living laboratory bagi para periset - akademisi untuk mengembangkan rute proses teknologi fraksionasi biomassa sawit sehingga body of knowledge dari biomass processing untuk discale-up pada skala industri,” jelas Putu Juli.
Untuk itu, Putu Juli menyarankan sudah saatnya program riset masuk tataran operasional skala industri, yaitu menghindarkan fenomenavalley of death disiklus pengembangan teknologi dari riset (skalalaboratorium) ke skala komersial (pabrik besar). Menurutnya, Kemenperin mempunyai beberapa Balai Besar dan Balai Industri yang kompeten dalam pelayanan jasa industri termasuk mengembangkan hasil riset menjadi skala komersial diantaranya menyusun jejaring (networking) antar pelaku usaha existing. “Dengan demikian, makin banyak pihak yang mendapatkan manfaat dari pengembangan hasil riset keskala industri karena ketersediaan jasa industri yang kompeten,” pungkas Putu Juli.






